Selasa, 27 November 2018

Yang Ngga Ada Matinya….!!!


Eh masa sih sekelas Sariwangi bisa bangkrut? Dia pelopor teh celup pertama di Indonesia kan? Ngga mungkin ah. Eh itu kan teh kesukaan aku sama keluarga, ngga mungkin ih kalo bangkrut, orang di toko-toko masih banyak yang jualan kok. Dan masih banyak lagi respon yang pernah aku baca maupun dengar ketika tersebar berita kebangkrutan dari Sariwangi di bulan Oktober lalu. Sebenernya ceritanya gimana sih kok bisa bangkrut gitu?
Captured at CFD Pare, Kediri

Pada tanggal 16 Oktober 2018, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Tapi kenapa produk Sariwangi masih beredaran di pasar hingga sekarang? Ternyata, produk teh Sariwangi bukan lagi milik dari PT Sariwangi gais, melainkan milik dari PT Unilver. Jadi PT Sariwangi ini hanya founder dari produk teh Sariwangi karena sekitar tahun 1989 produk ini diakuisisi oleh PT Unilver dan PT Sariwangi diputus kontrak oleh Unilever untuk tidak menyuplai bahan baku mulai awal tahun 2018an ini (CMIIW). Jadi resminya, brand Sariwangi itu hak milik dari Unilever gaisss sehingga produknya masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Sederhananya, yang pailit itu PT Sariwangi bukan produsen Sariwangi. Kok bisa pailit, ada apa?
Kepailitan PT Sariwangi yang pertama disebabkan karena terlilit hutang sebanyak 1.5T kepada para kreditur, tercatat PT Sariwangi meminjam dana ke lima bank dan kesusahan membayar sampai-sampai para kreditur mengajukan penagihan. Lalu, masalah selanjutnya ialah kegagalan investasi yang dialaminya. PT Sariwangi berniat melakukan investasi dengan mengembangkan sistem drainase akan tetapi investasinya tersebut tidak membuahkan hasil dan memperparah kondisi keuangan PT Sariwangi sendiri. Dan berakhirlah PT Sariwangi dengan diumumkan kepailitannya oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Tapi, selalu ada pelajaran berharga dari setiap kejadian bukan? Yaps, terdapat banyak pelajaran yang bisa kita jadikan pembelajaran buat diri kita sendiri, terutama aku.
Pertama, berani ambil tindakan. Berani mengambil tindakan dengan segala risikonya patut banget diacungin jempol loh gaiss. Tau kaaan, ga semua dari kita berani untuk keluar dari zona nyaman. Padahal dengan tidak keluarnya kita dari zona aman, maka tidak akan terjadi pertumbuhan. Sering ngga sih kalian ngrasa ‘ya ngga yaaah’ atau ‘maju mundur maju mundur tapi ngga cantik-cantik juga’? kalau iya, boleh banget nih dicontoh keberanian dari PT Sariwangi untuk mengambil tindakan untuk mengembangkan sistem drainasenya.
Kedua, brand itu penting. Brand yang tergolong intangible asset ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan aset fisik perusahaan. Produk teh Sariwangi sampai sekarang masih memiliki ruang di hati para konsumen. Dalam pengembangan diri, brand bisa diibaratkan dengan reputasi diri yang menggambarkan kualitas seseorang, jadi kebayang kaaan gimana pentingnya? Manusia mati meninggalkan nama. Orang yang berjasa, berkarya, dan memiliki kebermanfaatan akan selalu disebut dan dikenang walau berapa lama pun ia telah mati.
Ketiga, kontrol nafsu. Tau kaaan kalau PT Sariwangi ini dinyatakan pailit karena tidak mampu membayar hutang-hutangnya dan karena kegagalan investasinya? Nah biasanya perusahaan yang akan melakukan investasi atau mengembangkan usahanya itu melakukan terlebih dahulu melakukan uji kelayakan bisnis dari berbagai pendanaan (bisa dari modal sendiri, hutang, dan menjual surat berharga). Kebetulan, PT Sariwangi ini memilih pendanaannya dengan meminjam dana di bank. Balik lagi, ini bisa banget buat kita belajar. Kita, terutama aku, kadang sering banget salah memprioritaskan kebutuhan kita. Ketika lagi ada uang, suka laper mata, semua-muanya pengen dibeli padahal juga ga butuh-butuh amat. Atau bisa juga, keinginan yang tak sebanding dengan pemasukan, demi memenuhi gengsi, rela-relain cari pinjaman atau pakai kartu kredit. Kita, terutama aku, harus banget belajar hidup sebagaimana mestinya, sudah tau kan gengsi itu mahal? Gengsi tidak akan membuat kita kenyang. Hidup jangan terlalu dijajah gengsi!  
Keempat, hati-hati dalam meminjam dana. Mmm, mungkin bahasan ini agak sensitif tapi aku pengen banget sampaikan, kebenaran harus tetap disampaikan bukan? Ketika kita membutuhkan dana kemudian kita memilih jalan untuk meminjam dana, sebaiknya ini diperhatikan baik-baik mengenai risiko yang akan dihadapinya. Kalau aku ga salah ingat, dulu sewaktu kajian pernah disampaikan oleh ustadz bahwasanya kita tidak boleh berhutang kecuali untuk jihad dan perang di jalan Allah (mohon kalau salah dibetulkan yaaah). Nah, dari sini kita bisa nilai kalau hutang buat memenuhi gaya hidup udah pasti ga boleh kaaaan? Apalagi kalau kita sampai pinjam dana dari bank, ngeri gaiiissss, ada bunga yang nama sebenernya itu RIBA. Allah mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli, riba hanya akan membuat sengsara dunia dan akhirat. “Allah itu menghapus riba dan mengembangkan sedekah” (QS al Baqarah:276).

Kira-kira itu aja sih yang bisa mukhi bahas, terima kasih buat yang sudah mau berbagi sama mukhi. Big thanks to Mba Rara, Ukh Rois, dan Lizara, senang bisa berbagi dengan kalian 😊 dan yang terakhir, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil baik itu dari kejadian terburuk sekalipun.
Dan sekali lagi terima kasih Mba Rara yang sudah menyampaikan "Terkadang diri menahan untuk tidak mendiskusikan sesuatu di luar dari apa yang mampu diri ini jangkau. Salah benar dugaan belum tentu membuat diri semakin mengakui kekuasanNya." What a nice reminder ❤❤ 

Much love,


Mukhi

2 komentar: