Senin, 23 Maret 2015

Recharge Syukur



Minggu pagi biasa kuhabiskan untuk beres-beres kamar, mencuci baju atau memasak. Namun karena Sabtu malam aku sudah mengerjakannya, termasuk mencuri-curi kesempatan untuk menanak nasi (fyi, di kos tidak boleh memasak pakai ricecooker) akhirnya minggu pagi terasa sedikit santai. Niatnya mau olahraga, tapi rasa malas selalu membuat langkahku terhenti. Akhirnya pagi ini kubuat untuk jalan-jalan santai sambil membeli sayur dan lauk pauk. Tak lama berjalan dari tempat kos, aku berjalan dengan riangnya melihat ibu penjual nasi sayur sudah siap di tempat. Yeaaah akhirnya sarapan sayur setelah beberapa hari kekurangan asupan sayur, begitu pikirku. Dengan membawa sebungkus sayur, satu bungkus pepes, dan beberapa lauk aku kembali ke kos masih dengan wajah yang berseri-seri entah kenapa pagi itu aku merasa bahagia. Tapi rasa senang itu sedikit terganggu ketika aku melihat gerobak sampah di depanku. Aaah, pasti bau nih, duh!. Dengan berjalan sedikit cepat aku berusaha untuk segera terhindar dari gerobak tersebut. Aku tak berani menutup hidungku karena takut menyinggung perasaan orang lain, jadi aku hanya berjalan cepat. Tapiiii, pagi itu suasana berbeda. Langkahku seketika gontai ketika melihat apa yang terjadi di hadapanku. Aku berusaha untuk menelan semua kenyataan yang ada di hadapanku, tapi rasanya mengganjal di kerongkongan. Gerobak itu ditarik oleh laki-laki lanjut usia dengan pakaian lusuh. Ketika aku lewat di sampingnya, laki-laki tersebut sedang membungkuk mengorek tempat sampah milik warung makan. Dan di tengah-tengah kegiatannya itu, beliau menemukan semacam gorengan (saya menebak itu jamur crispy) di tempat sampah dan langsung melahapnya. Astagfirullahaladziim.... aku yang masih kerap kali mengeluh ketika disuguhkan masakan yang tak sesuai dengan seleraku, sekarang aku melihat orang yang tak seharusnya memakan itu namun memakannya kerena sebuah keterpaksaan. Setelah melihat kejadian tersebut aku tak bersemangat melanjutkan perjalanan pulang dan terus memikirkannya sampai aku memutuskan untuk menuliskan ceritanya disini. Sarapanku pun tak lagi seindah yang aku bayangkan. Bagaimana mungkin aku dapat makan dengan lahap ketika orang yang baru saja kutemui tak demikian. Yah, yang demikian ini yang kerap kali membuatku ingin pulang ke rumah dengan segera, perlu recharge rasa syukur di rumah. Di tempat kuliah seringkali membuatku susah bersyukur karena selalu melihat dan menginginkan apa yang belum kumiliki. Padahal masih banyak orang yang belum seberuntung diriku. Mereka yang selalu berdoa agar dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, mereka yang selalu berdoa agar Allah selalu memberi rezeki agar dapat membeli makan untuk esok hari. Bersyukur, bersyukur, bersyukur, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.