Selasa, 27 November 2018

Yang Ngga Ada Matinya….!!!


Eh masa sih sekelas Sariwangi bisa bangkrut? Dia pelopor teh celup pertama di Indonesia kan? Ngga mungkin ah. Eh itu kan teh kesukaan aku sama keluarga, ngga mungkin ih kalo bangkrut, orang di toko-toko masih banyak yang jualan kok. Dan masih banyak lagi respon yang pernah aku baca maupun dengar ketika tersebar berita kebangkrutan dari Sariwangi di bulan Oktober lalu. Sebenernya ceritanya gimana sih kok bisa bangkrut gitu?
Captured at CFD Pare, Kediri

Pada tanggal 16 Oktober 2018, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Tapi kenapa produk Sariwangi masih beredaran di pasar hingga sekarang? Ternyata, produk teh Sariwangi bukan lagi milik dari PT Sariwangi gais, melainkan milik dari PT Unilver. Jadi PT Sariwangi ini hanya founder dari produk teh Sariwangi karena sekitar tahun 1989 produk ini diakuisisi oleh PT Unilver dan PT Sariwangi diputus kontrak oleh Unilever untuk tidak menyuplai bahan baku mulai awal tahun 2018an ini (CMIIW). Jadi resminya, brand Sariwangi itu hak milik dari Unilever gaisss sehingga produknya masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Sederhananya, yang pailit itu PT Sariwangi bukan produsen Sariwangi. Kok bisa pailit, ada apa?
Kepailitan PT Sariwangi yang pertama disebabkan karena terlilit hutang sebanyak 1.5T kepada para kreditur, tercatat PT Sariwangi meminjam dana ke lima bank dan kesusahan membayar sampai-sampai para kreditur mengajukan penagihan. Lalu, masalah selanjutnya ialah kegagalan investasi yang dialaminya. PT Sariwangi berniat melakukan investasi dengan mengembangkan sistem drainase akan tetapi investasinya tersebut tidak membuahkan hasil dan memperparah kondisi keuangan PT Sariwangi sendiri. Dan berakhirlah PT Sariwangi dengan diumumkan kepailitannya oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Tapi, selalu ada pelajaran berharga dari setiap kejadian bukan? Yaps, terdapat banyak pelajaran yang bisa kita jadikan pembelajaran buat diri kita sendiri, terutama aku.
Pertama, berani ambil tindakan. Berani mengambil tindakan dengan segala risikonya patut banget diacungin jempol loh gaiss. Tau kaaan, ga semua dari kita berani untuk keluar dari zona nyaman. Padahal dengan tidak keluarnya kita dari zona aman, maka tidak akan terjadi pertumbuhan. Sering ngga sih kalian ngrasa ‘ya ngga yaaah’ atau ‘maju mundur maju mundur tapi ngga cantik-cantik juga’? kalau iya, boleh banget nih dicontoh keberanian dari PT Sariwangi untuk mengambil tindakan untuk mengembangkan sistem drainasenya.
Kedua, brand itu penting. Brand yang tergolong intangible asset ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan aset fisik perusahaan. Produk teh Sariwangi sampai sekarang masih memiliki ruang di hati para konsumen. Dalam pengembangan diri, brand bisa diibaratkan dengan reputasi diri yang menggambarkan kualitas seseorang, jadi kebayang kaaan gimana pentingnya? Manusia mati meninggalkan nama. Orang yang berjasa, berkarya, dan memiliki kebermanfaatan akan selalu disebut dan dikenang walau berapa lama pun ia telah mati.
Ketiga, kontrol nafsu. Tau kaaan kalau PT Sariwangi ini dinyatakan pailit karena tidak mampu membayar hutang-hutangnya dan karena kegagalan investasinya? Nah biasanya perusahaan yang akan melakukan investasi atau mengembangkan usahanya itu melakukan terlebih dahulu melakukan uji kelayakan bisnis dari berbagai pendanaan (bisa dari modal sendiri, hutang, dan menjual surat berharga). Kebetulan, PT Sariwangi ini memilih pendanaannya dengan meminjam dana di bank. Balik lagi, ini bisa banget buat kita belajar. Kita, terutama aku, kadang sering banget salah memprioritaskan kebutuhan kita. Ketika lagi ada uang, suka laper mata, semua-muanya pengen dibeli padahal juga ga butuh-butuh amat. Atau bisa juga, keinginan yang tak sebanding dengan pemasukan, demi memenuhi gengsi, rela-relain cari pinjaman atau pakai kartu kredit. Kita, terutama aku, harus banget belajar hidup sebagaimana mestinya, sudah tau kan gengsi itu mahal? Gengsi tidak akan membuat kita kenyang. Hidup jangan terlalu dijajah gengsi!  
Keempat, hati-hati dalam meminjam dana. Mmm, mungkin bahasan ini agak sensitif tapi aku pengen banget sampaikan, kebenaran harus tetap disampaikan bukan? Ketika kita membutuhkan dana kemudian kita memilih jalan untuk meminjam dana, sebaiknya ini diperhatikan baik-baik mengenai risiko yang akan dihadapinya. Kalau aku ga salah ingat, dulu sewaktu kajian pernah disampaikan oleh ustadz bahwasanya kita tidak boleh berhutang kecuali untuk jihad dan perang di jalan Allah (mohon kalau salah dibetulkan yaaah). Nah, dari sini kita bisa nilai kalau hutang buat memenuhi gaya hidup udah pasti ga boleh kaaaan? Apalagi kalau kita sampai pinjam dana dari bank, ngeri gaiiissss, ada bunga yang nama sebenernya itu RIBA. Allah mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli, riba hanya akan membuat sengsara dunia dan akhirat. “Allah itu menghapus riba dan mengembangkan sedekah” (QS al Baqarah:276).

Kira-kira itu aja sih yang bisa mukhi bahas, terima kasih buat yang sudah mau berbagi sama mukhi. Big thanks to Mba Rara, Ukh Rois, dan Lizara, senang bisa berbagi dengan kalian 😊 dan yang terakhir, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil baik itu dari kejadian terburuk sekalipun.
Dan sekali lagi terima kasih Mba Rara yang sudah menyampaikan "Terkadang diri menahan untuk tidak mendiskusikan sesuatu di luar dari apa yang mampu diri ini jangkau. Salah benar dugaan belum tentu membuat diri semakin mengakui kekuasanNya." What a nice reminder ❤❤ 

Much love,


Mukhi

Kamis, 22 November 2018

SUMPAH (kamu) PEMUDA?


Penelitian yang dilakukan oleh Weight Watchers terhadap 2.000 wanita di Inggris menunujukkan kalo wanita itu rata-rata mengkritik dirinya sendiri sebanyak delapan kali dalam sehari. Biasanya yang mereka kritik sih seputar masalah penampilan, keuangan, kegelisahan, bentuk tubuh, dan karir. Kamu salah satu dari mereka ga? (aku sepertinya iya deh gaiss, duhh). Sebenernya apa sih penyebabnya kok kita menilai rendah diri kita atau kerennya low self esteem. Menurut kamu, penyebabnya apa sih? Ada yang tahu? Ada yang tempe? (oposih, aku garing :D)

Ternyata yah gaiss, low self esteem kita itu bisa dipengaruhi oleh budaya media sosial, selfie, dan fenomena Instagram. Dimana banyak wanita lebih mementingkan penampilan di media sosial daripada di kehidupan nyatanya, alhasil yaaaah mereka ini memasang standar tinggi untuk dirinya sendiri. Lah padahal kan ga bakal ada habisnya kalo kita ngikutin gaya hidup yang terpampang di IG, ya kaaan? Nah jadilah kita menciut duluan.

Pernah ga kalian ngerasain minder parah gegara kita masih gini-gini aja sedangkan orang lain yang seumuran kita atau bahkan lebih muda dari kita pencapaiannya udah banyak. Terus ngerasa juga kalau semuanya udah terlambat karena usia udah segini tapi masih belum ada kemajuan apa-apa. Pasti salah satu dari kalian yang kebetulan lagi baca tulisan ini pernah mikir kayak gitu. Dan bersyukurlah kalian yang ngga pernah kepikiran seperti itu, kalian hebat.

Teruntuk kamu, perempuan yang tak kalah hebat karena mampu bertahan di tengah ‘guncangan’. Kamu tau kan kalau misalnya kita ini udah memasuki zaman revolusi industri 4.0 dimana semua-semua terhubung dengan internet. Kita menghadapi banyak perubahan dan menuntut kita untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut, kalau masih keukeh sama yang kemaren, ya sudah dadah bye-bye. Sekarang kita harus mempertahankan eksistensi kita sebagai manusia, sebagai pemuda untuk membuktikan bahwa kita siap dengan perubahan. Caranya gimana nih?

Untuk kalian dan terutama aku sendiri, ayooo berbenah. Jangan terbuai dengan kenikmatan di masa lalu. Kita harus makin cantik, makin keren, makin tegar dan makin bersinar. Mari belajar, berpikir kritis, beride, berakhlak baik, berempati, beragama dan sebagainya. Dakwah story gib’s bilang “Jadilah ‘manusia’, bukan menjadi mesin”. Sudah bukan jamannya lagi perempuan masa kini galau dirundung ketidakpastian si doi. Sudah bukan jamannya lagi perempuan masa kini stress berkepanjangan memikirkan penampilan yang akan digemari orang. Dan udah ngga jaman lagi perempuan masa kini hanya berdiam diri menerima setiap perlakuan dunia yang jauh dari kata adil ini. We deserve better, guys!!

Selasa, 20 November 2018

Manusia yang 'Manusia'


“Maukah kau menikah denganku, Mei?” Meirose ga jawab, cuman senyum-senyum kaget campur terharu. Mungkin aku atau kita juga akan merespon yang sama, walaupun dalam hati bersorak ria dan pengen jawab “iya maaas, dedek mau”. Atau bisa juga ga respon dan ga jawab karena emang ga ada yang nanyain, hahah. Tapi kan ga ada salahnya kalau kita berharap? Iyaaaps ga ada masalah, tapi gimana kalo misal kita mempersiapkan diri dulu aja?

Jadi ceritanya, minggu kemaren tuh aku ikut sebuah seminar. Awalnya underestimate gituu soalnya ada kemungkinan yang dibahas ga asik, tapi berhubung seminar diadain oleh organisasi yang menjadi tempat aku bertumbuh, baiklaaaah aku hadir adik-adik sekalian. Dan ternyata, meski materinya biasa aku temuin di tempat lain tapi di acara ini tuh pemateri menyampaikannya dengan cara yang super seru dan mudah diterima oleh anak muda, termasuk aku. Tema yang diangkat adalah The Rise of Ummah, pemateri pertama menyampaikan materi tentang pemuda dan pemateri kedua menyampaikan materi dengan judul Muslimah Kunci Kebangkitan Umat.

Pertama, kami disodorkan pertanyaan apasih bedanya pemuda dan remaja. Jelas, kami bingung. Jujur, aku kesulitan gimana yah ngejelasinnya. Konsepnya sih sudah ada di otak, tapi sulit mengungkapkannya. Menurut kalian gimana? Keduanya sama jika dilihat dari segi umur, tapi kesannya beda kan yaaah kalau kita liat dari kelakuan dan pencapaian. Kesannya, remaja itu tipe yang begajulan banyak negatifnya gitu kan yah tapi kalo pemuda itu yang prestatif dan sisi-sisi positif lainnya. Kalian mikir gitu ga? Dan yaps, di dalam Al-Quran dan Al Hadist, tidak disebutkan atau diriwayatkan mengenai remaja melainkan selalu membahas mengenai “pemuda”. Begitu juga dalam sejarah kemerdekaan negara kita, yang diceritakan dalam sejarah adalah para pemuda, bukan remaja.


Jadi sebenernya pemuda itu apaaa? Pemuda ini siapa? Jadi berdasarkan pemaparan pemateri, pemuda itu suatu kekuatan di antara dua kelemahan. Kelemahan yang pertama ialah masa kanak-kanak dan kelemahan satunya ialah masa tua. Keren kaaan yaaah pemuda dibilang sebagai kekuatan, kok bisa gitu yaaaah. Ternyata alasannya ialah karena pemuda itu bisa ngelakuin apa aja. Punya kekuatan buat ngelakuin segala bentuk kebaikan dan juga mampu buat ngelakuin segala bentuk ketidakbaikan. Tergantung si pemuda ini, mau manfaatkan masa mudanya untuk apa. Trus, korelasinya cerita di awal paragraf dan pemuda itu apa?

Yaaaa, taulah yaaa pemuda di sekililing kita masih banyak yang diriweuhkan dengan urusan asmara. Padahaaaal, temen-temennya lagi sibuk berprestasi dan berpartisipasi untuk kemajuan bangsa. Trus maksudmu apaaaa nulis ini, kamu mengingkari fakta kalau naksir atau jatuh cinta itu sifat alamiah manusia? BIG NO guys, aku sepakat. Sepakat banget malah kalau misal perasaan-perasaan itu kadang muncul gitu aja tanpa kita minta, tapi sejujurnya mereka bisa kok dikelola dengan baik. Trus kamu pikir mereka yang lagi jatuh cinta ga bisa berprestasi? Mmmm, engga kooo, ga gitu maksud akutuuu. Kita sering kan denger keluhan “duh capek aku kuliah, pengen nikah aja”, “duhhhh skripsi ga kelar-kelar, bimbingan janjian ama dosen ga kelar-kelar, nikah aja enak kali ya”. Heeeeeeeei, ga sesederhana itu. Nikah ada ilmunya, sudah cukup belum ilmunya untuk mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga?

Kalau dari seminar kemarin yaaaah, sebelum kita memutuskan untuk menikah kita tuh akan menjadi pemuda yang bener-bener kuat untuk melakukan segala bentuk kebaikan karena ga ada distraction atau gangguan. Jadi kita bisa fokus terhadap pengembangan diri kita tanpa harus diriweuhkan dengan urusan pasangan ataupun anak. Dan juga ketika belum ada yang menyampaikan niat baiknya ke ayah kita, kita bisa melakukan banyak hal yang tentunya akan bermanfaat banget buat diri kita dan juga orang lain.

Jadi ada beberapa to do list yang harus dilakukan sebelum kita memutuskan untuk menikah. Yang pertama adalah selesaikan terlebih dahulu masalah diri kita. Ini yaaa jelas banget lah yaaa, masa perkara yang ada di diri kita belum kelar tapi dah mau ngadepin masalah baru tantangan baru, hihi. Trus yang kedua itu, tambah wawasan kita. Penting banget ini mah, kan kita mau membangun perdaban, kalo kitanya ga berwawasan, peradaban apa yang akan kita bangun? Eaaaaaaaaa. Caranya gimana nih kita menambah wawasan? Kalau kemarin sih dibilangnya dengan memberikan nutrisi untuk otak, rohani, dan jasmani. Nutrisi untuk otak, membaca misalnya. Beribadah, menambah imu tentang keIslaman untuk nutrisi rohani dan berolahraga untuk jasmani kita. Then, yang ketiga ialah gali potensi diri. Sebelum memutuskan untuk menikah, kita sebagai pemuda ini memiliki kesempatan selebar-lebarnya untuk berkelana di bumi Allah dan belajar dari setiap kejadian yang kita hadapi. Kita bisa fokus menaklukkan mimpi-mimpi kita dan juga mempersiapkan diri untuk menjadi teladan buat anak-anak kita kelak.

Sebenernya kemarin dijelasinnya ada banyak sih apa aja yang harus dilakuin, cuman aku ga nyatet dengan dalih ‘ah kayaknya mudah diingat’ dan ternyata aku banyak yang lupa, haha. Dan abrakadabra, hanya tiga yang aku ingat tapi insyaAllah sudah cukup mewakili apa yang disampaikan kemarin kok. Semoga bermanfaat yah gaiss, dan kita bisa segera belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menikah ketika sudah siap, tidak menunda menikah karena sibuk dengan karier dan juga tidak tergesa-gesa karena merasa banyak masalah yang harus dihadapi termasuk melihat teman-teman sudah mulai menikah.

Much love,


Mukhi

Minggu, 18 November 2018

Ngeluh Lhoo Gapapa!!

Iseng buka catatan di hape, nemu catatan bulan Maret lalu. Baca, terus manggut-manggut senyum sendiri. Terima kasih yang sudah menginspirasi sepenggal catatan ini (aku lupa ga cantumkan nama inspiratornya di catatan), karena aku yakin ini bukan murni tulisanku. Pasti aku habis baca tulisan atau denger orang terus ngikut-ngikut bahas yang mirip-mirip. Kira-kira tertulislah seperti ini:

Sebenernya yang menjadikan sulit dan membebani diri kita itu yaaaa diri kita sendiri. Orang yang hebat mempunyai goals dan tuntutan yang berat terhadap dirinya sendiri, itulah yang membuat seakan-akan semuanya terasa sulit. Sampe sini, sepakat ga nih kalian? Heheh. Kenapa bisa seperti itu yah? Karena kalau kita ngga menghendaki adanya tuntutan, deadline, standar hidup and whatever that, yaaa… hidup ini akan terasa ringan dan mudah. Ngga ada tantangan dan rintangan, tapi hidup kita juga bakal gini-gini aja, ga akan berkembang. Jadi dari sini bisa disimpulkan kalau misalnya hidup itu sulit dan terasa membebani kita adalah proses agar hidup kita terus berkembang. Seperti yang dibilang oleh Merry Riana, tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman, dan tidak ada kenyamanan dalam zona pertumbuhan. Kurang lebih, tulisan di catatan seperti itu siiih πŸ˜€



Terus sekarang kita, terutama aku, pasti pengen banget kan ada di zona pertumbuhan. Walaupun kadang aku sendiri takut dengan ketidaknyamanan yang akan dihadapi, haha. Tapiiii, life must go on, ngga mau juga kan hidup cuman gini-gini aja. Okeeeh baiklah aku akan menuju zona pertumbuhan. Eh taunya pas lagi nyoba keluar dari zona nyaman, rintangan dan tantangan datang dari berbagai penjuru. WaduhhπŸ‘ΎπŸ‘Ύ

Terus, kalau udah gitu apa sih yang kalian lakuin? Jujur ke diri sendiri yaaaah, kalau aku sih biasanya ngeluh dan banyak berandai-andai. Cobaaa kalo aku gini, pasti ga bakalan gitu. Cobaaa aku jadi dia pasti hidupku ga bakal kayak gini, dan masih banyak lagi andai-andai yang tak mungkin kutulis disini haha (tolong ini contoh yang tidak baik, abaikan saja). Nah waktu itu, aku pernah ada di fase semangatku tinggal sedikit dan rasa syukurku perlu diisi ulang, jadi isinya ngeluuuuuh mulu sambil ga mood buat ngapa-ngapain karena gatau mau memulainya darimana saking banyaknya yang harus dikerjainπŸ˜”πŸ˜©.

Then, aku liat status whatsapp kakak perepuan pertamaku yang bilang “coba banyak-banyak liat instagram @ACTforhumanity biar banyak bersyukurnya”. Langsung kubuka pada saat itu juga nih gaiss, aku scroll sampe bawah dan baca-baca captionnya trus nangis sendiri masaaa 😒😭. Nangisnya malu gaiss, karena ternyata apa yang aku rasain sekarang ga ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dialami oleh saudara-saudara kita yang kebetulan dicapture oleh ACT.

Oh yaaa, aku pengen nanya…. Semalam tidur kalian nyenyak ngga? Alhamdulillah yaaa kalau tidur kalian nyenyak, aku juga, hihi 😬. Tapiiiii, sewaktu kita tidur dengan pulasnya, saudara kita di tempat lain ada yang ga bisa tidur nyenyak. Mereka ketakutan sepanjang hari, karena serangan roket Israel menyerang mereka secara acak. Malam-malam saudara kita dihabiskan dengan melihat cahaya dan nyala terang roket yang dikirimkan dari udara. Nyawa mereka bisa saja melayang sewaktu-waktu. Ngeri banget kaaaaaan?😫 Coba bandingkan dengan kita!! Alhamdulillah masih bisa tidur nyenyak (kadang jam tidurku udah mau nyaingin koala gais, ampuuun deh πŸ˜ͺ😫), laper bisa makan, bosen bisa ngemall, suntuk bisa curhat ke temen-temen. Kalau dengan ini kalian belum bisa bersyukur, coba kalian stalking-stalking sendiri yah. Kalau masih belum bisa juga, mari kita cek hati kita, siapa tau masalahnya ada di diri kita sendiri πŸ˜‰πŸ˜†

Jadi, inti dari tulisan ini apa yah, kok aku juga bingung sendiri, haha. Mungkin…. Kita harus lebih banyak bersyukur kali yaaaa, biar hidup kita yang berat ini terasa ringan. Santai dan kalem aja kalau hidup terasa berat, tandanya kita sedang bertumbuh. Sepakat ngga nih? Haha 😎😎

Much love,


Mukhi❤

Sabtu, 17 November 2018

CAPEK: Butuh Piknik!!

Pernah ga siiih dari kalian ngerasa capek, lelah, penat dengan segala aktivitas yang kalian jalani?
Bosen dan suntuk sampe ga ada lagi inspirasi buat selesaiin kerjaan ataupun tugas tugas padahal deadline udah di depan mata πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜«

Pasti pernah lah yaaa, ga mungkin kalo kita ga pernah ngerasain capek. Orang kebanyakan tidur aja juga capek kok!!! (Hobi aku gaiss, jangan ditiru 🀐)
Apalagi mengerjakan sesuatu yg ada targetnya, lah pasti melelahkan. Bisa jadi capek fisik, capek pikiran dan capek hatiπŸ’”πŸ’”.


Pernah ngerasa juga ga, kalo misal apa yang kita kerjakan itu kayak ga ada progres atau stuck yaa disini sini aja. Seakan apa yang telah kita upayakan itu tak kunjung membuahkan hasil. Trus akhirnya kita capek dan males buat berjuang lagi.

Yaaaaaa, aku seriiiiiiing banget ngerasa kayak gitu. Dan aku rasa, salah satu dari kalian yg lagi baca ini pasti juga pernah ngerasain hal yang sama. Dan BERSYUKURLAH kita karena bisa ngerasain capek. Why? Karena dengan ngerasa capek berarti ada yang kita perjuangkan. Begitu juga dengan perasaan bingung, berarti itu tanda kalo kita berpikir πŸ˜…πŸ˜‰

Cobaa, kalo kita lagi capeeeek banget gitu, kita inget inget lagi perjuangan kita. Siapa tau sebenernya kesuksesan kita itu tinggal selangkah lagi. Siapa tau kan yaaah? Kalo ga dicoba yaaa mana mungkin kita akan tau, heheh.

Terus kalo pas lagi ngerasa apa yang kita perjuangkan itu sia-sia, coba pikir pikir lagi, coba dan paksa diri kita buat lebih banyak bersyukur. "Mata, makasih yaaa udah mau begadang buat ngerjain tugas. Jari, makasih yaaaa udah mau kooperatif buat ngetik paper. Otaaak, makasih yaaaa udah mau aku ajak mikir seharian ini" (makasih kakak aku pas di pare udah kasih wejangan iniπŸ˜‰).

Coba bayangkan kalau kita ga mencoba bersyukur, pasti kita akan terus-terusan bandingin diri kita dengan capaian orang lain padahal kita udah usaha semaksimal mungkin. Usaha sampe break the limit yaa gaiss, jangan playing victim merasa udah berjuang paling berdarah darah padahal yaaaa masih banyak yg belum diusahakan 😎.

Then, apalagi yang bisa kita lakuin kalo lagi ngerasa cuapek banget?? Istirahat?? Mmmm boleh. Istirahat sejenak yaaah, jangan sampe keblabasan. Misal lagi capek jenuh ngerjain pra-proposal trus ngaku butuh istirahat, taunya explore pulau jawa. Hmm dont be like that ya gaisss πŸ˜‰πŸ˜‹

Istirahat sejenak, secukupnya. Rilekskan pikiran dengan hal hal yang biasanya kita lakukan, me time juga bolehlah. Tapi inget, jangan sampe keblabasan. Karena apaaaah, sejatinya istirahatnya kita menurut Imam Ahmad bin Hanbal ialah "ketika kita menginjakkan kaki di surga". Jadi, sebelum kita menginjakkan kaki kita di surga, perjuangan itu tetap harus berlanjut  gaiss heheh 😎

Ps: biar ga capek capek banget, coba niatkan semuanya karena Allah, biar lelahnya menjadi berkah πŸ˜‰


Much love,


Mukhi ❤



Anyway, Mukhi kok suka banget ngomong ginian sih. Sudah diimplementasikan belum? Jangan-jangan cuman baru ngomong doang, zzzzzzzzz.
Iyaaaah, Mukhi masih suka banyak omong dan minim implementasi.....
Jadi, dengan nulis gini nantinya kalau suatu misal Mukhi ngeluh ke kalian, kalian tegur aja. "Bukannya dulu pernah nulis blablabla kok sekarang ga seperti yang dituliskan". Naaaahhhh.....