Eh masa sih sekelas Sariwangi bisa bangkrut? Dia
pelopor teh celup pertama di Indonesia kan? Ngga mungkin ah. Eh itu kan teh
kesukaan aku sama keluarga, ngga mungkin ih kalo bangkrut, orang di toko-toko
masih banyak yang jualan kok. Dan masih banyak lagi respon yang pernah aku baca
maupun dengar ketika tersebar berita kebangkrutan dari Sariwangi di bulan
Oktober lalu. Sebenernya ceritanya gimana sih kok bisa bangkrut gitu?
| Captured at CFD Pare, Kediri |
Pada tanggal 16 Oktober 2018, PT Sariwangi
Agricultural Estate Agency dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta
Pusat. Tapi kenapa produk Sariwangi masih beredaran di pasar hingga sekarang?
Ternyata, produk teh Sariwangi bukan lagi milik dari PT Sariwangi gais,
melainkan milik dari PT Unilver. Jadi PT Sariwangi ini hanya founder dari produk teh Sariwangi karena
sekitar tahun 1989 produk ini diakuisisi oleh PT Unilver dan PT Sariwangi diputus
kontrak oleh Unilever untuk tidak menyuplai bahan baku mulai awal tahun 2018an
ini (CMIIW). Jadi resminya, brand Sariwangi
itu hak milik dari Unilever gaisss sehingga produknya masih bisa kita nikmati
hingga sekarang. Sederhananya, yang pailit itu PT Sariwangi bukan produsen
Sariwangi. Kok bisa pailit, ada apa?
Kepailitan PT Sariwangi yang pertama disebabkan
karena terlilit hutang sebanyak 1.5T kepada para kreditur, tercatat PT
Sariwangi meminjam dana ke lima bank dan kesusahan membayar sampai-sampai para
kreditur mengajukan penagihan. Lalu, masalah selanjutnya ialah kegagalan
investasi yang dialaminya. PT Sariwangi berniat melakukan investasi dengan
mengembangkan sistem drainase akan tetapi investasinya tersebut tidak
membuahkan hasil dan memperparah kondisi keuangan PT Sariwangi sendiri. Dan
berakhirlah PT Sariwangi dengan diumumkan kepailitannya oleh Pengadilan Niaga
Jakarta Pusat. Tapi, selalu ada pelajaran berharga dari setiap kejadian bukan? Yaps,
terdapat banyak pelajaran yang bisa kita jadikan pembelajaran buat diri kita
sendiri, terutama aku.
Pertama, berani
ambil tindakan. Berani mengambil tindakan dengan segala risikonya patut
banget diacungin jempol loh gaiss. Tau kaaan, ga semua dari kita berani untuk
keluar dari zona nyaman. Padahal dengan tidak keluarnya kita dari zona aman,
maka tidak akan terjadi pertumbuhan. Sering ngga sih kalian ngrasa ‘ya ngga
yaaah’ atau ‘maju mundur maju mundur tapi ngga cantik-cantik juga’? kalau iya,
boleh banget nih dicontoh keberanian dari PT Sariwangi untuk mengambil tindakan
untuk mengembangkan sistem drainasenya.
Kedua, brand
itu penting. Brand yang tergolong intangible
asset ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan aset fisik perusahaan.
Produk teh Sariwangi sampai sekarang masih memiliki ruang di hati para
konsumen. Dalam pengembangan diri, brand bisa diibaratkan dengan reputasi diri
yang menggambarkan kualitas seseorang, jadi kebayang kaaan gimana pentingnya?
Manusia mati meninggalkan nama. Orang yang berjasa, berkarya, dan memiliki
kebermanfaatan akan selalu disebut dan dikenang walau berapa lama pun ia telah
mati.
Ketiga, kontrol
nafsu. Tau kaaan kalau PT Sariwangi ini dinyatakan pailit karena tidak
mampu membayar hutang-hutangnya dan karena kegagalan investasinya? Nah biasanya
perusahaan yang akan melakukan investasi atau mengembangkan usahanya itu
melakukan terlebih dahulu melakukan uji kelayakan bisnis dari berbagai
pendanaan (bisa dari modal sendiri, hutang, dan menjual surat berharga).
Kebetulan, PT Sariwangi ini memilih pendanaannya dengan meminjam dana di bank.
Balik lagi, ini bisa banget buat kita belajar. Kita, terutama aku, kadang
sering banget salah memprioritaskan kebutuhan kita. Ketika lagi ada uang, suka
laper mata, semua-muanya pengen dibeli padahal juga ga butuh-butuh amat. Atau
bisa juga, keinginan yang tak sebanding dengan pemasukan, demi memenuhi gengsi,
rela-relain cari pinjaman atau pakai kartu kredit. Kita, terutama aku, harus banget
belajar hidup sebagaimana mestinya, sudah tau kan gengsi itu mahal? Gengsi
tidak akan membuat kita kenyang. Hidup jangan terlalu dijajah gengsi!
Keempat, hati-hati
dalam meminjam dana. Mmm, mungkin bahasan ini agak sensitif tapi aku pengen
banget sampaikan, kebenaran harus tetap disampaikan bukan? Ketika kita
membutuhkan dana kemudian kita memilih jalan untuk meminjam dana, sebaiknya ini
diperhatikan baik-baik mengenai risiko yang akan dihadapinya. Kalau aku ga
salah ingat, dulu sewaktu kajian pernah disampaikan oleh ustadz bahwasanya kita
tidak boleh berhutang kecuali untuk jihad dan perang di jalan Allah (mohon
kalau salah dibetulkan yaaah). Nah, dari sini kita bisa nilai kalau hutang buat
memenuhi gaya hidup udah pasti ga boleh kaaaan? Apalagi kalau kita sampai
pinjam dana dari bank, ngeri gaiiissss, ada bunga yang nama sebenernya itu
RIBA. Allah mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli, riba hanya akan
membuat sengsara dunia dan akhirat. “Allah itu menghapus riba dan mengembangkan sedekah” (QS al Baqarah:276).
Kira-kira itu aja sih yang bisa mukhi bahas, terima
kasih buat yang sudah mau berbagi sama mukhi. Big thanks to Mba Rara, Ukh Rois,
dan Lizara, senang bisa berbagi dengan kalian π
dan yang terakhir, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil baik itu dari
kejadian terburuk sekalipun.
Dan sekali lagi terima kasih Mba Rara yang sudah menyampaikan "Terkadang diri menahan untuk tidak mendiskusikan sesuatu di luar dari apa yang mampu diri ini jangkau. Salah benar dugaan belum tentu membuat diri semakin mengakui kekuasanNya." What a nice reminder ❤❤
Much love,
Mukhi




