The 7 Habits of Highly Effective
Teens, The Ultimate Teenage Success Guide
by : Sean Covey
Seneng ga sih kalo kalian diajak
ngobrol soal pemuda? Aku pribadi, seneng banget soalnya banyak hal yang bisa
diobrolin. Ditinjau dari sudut manapun pemuda selalu memiliki ‘sesuatu’ untuk
dibahas. Bahasnya ini, bisa dalam bahasan positif maupun negatif. Tapi meskipun
kita bahas sisi negatif pemuda tepatnya remaja semoga dapat kita jadikan
pembelajaran yah soalnya kalo cuman ngegosip aja tidak akan terjadi proses acquisition sehingga tidak akan tercipta
pengetahuan baru (haha apa sih ini kok malah bahas knowledge management). Yaaah, kurang lebihnya seperti itu yaa, mau
bahas sisi positif maupun negatif tetep harus bisa bawa kebaikan untuk diri
kita dan juga orang lain.
Ceritanya, beberapa hari yang lalu
sempet suka baca buku. Setelah cari-cari, nemu beberapa buku dan hari ini aku
pengen ceritakan ulang beberapa part yang udah aku baca dari buku Sean Covey
yang berjudul The Most Important
Decisions You’ll Ever Make (buku ini aku dapat rekomendasi dari adders
Draft-UGM hahha). Setalah dapet buku itu, ternyata di dalamnya ada bahasan
mengenai buku dia yang sebelumnya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective Teens, The Ultimate Teenage Success Guide.
Bahasan ini ngejelasin tujuh karakteristik dari remaja yang bahagia dan sukses
yang kerap ditemui di seluruh dunia. Remaja tepatnya pemuda aku rasa butuh
banget karakteristik ini, biar hidup tidak hanya sekedar hidup, hehe. Tapi
sebelum masuk ke tujuh karakteristik tersebut, kita bahas dulu mengenai
“paradigma” dan “prinsip”. Sering banget kan kita denger kata itu?
Covey menjelaskan paradigma sebagai
sebuah persepsi, sudut pandang atau cara bagaimana kita memandang dunia. Dengan
memahami betul apa paradigma dan memahami maknanya, kita diharapkan tidak akan
dengan mudah men-judge orang lain
hanya dari sisi yang nampak dan kebetulan kita lihat padahal kita jarang banget
tahu seluruh cerita dari dia. Yang selanjutnya mengenai prinsip. Covey
mengibaratkan prinsip itu seperti hukum alam, misalnya prinsip gravitasi. Yang
perlu kita tau, prinsip atau hukum tersebut tidak hanya mengatur mengenai fisik
dunia melainkan juga mengatur interaksi manusia. Kalau dosen Knowledge Management di kampus bilang,
apa yang kita indekskan di semesta, itulah yang akan kita dapat nantinya. Kalau
seringnya, mungkin kita sering denger apa yang kita tabur itulah yang akan kita
tuai. Daaaaan, kalau Covey mencontohkannya pada kejujuran. Ketika kita berlaku
jujur maka kita akan mendapatkan kepercayaan dari mereka dan ia juga
mencotohkan bentuk lain dari prinsip, diantaranya ialah kerja keras, fokus,
tanggung jwab, menghormati, and dozens
more. Naaah, dengan tau makna dari paradigma dan prinsip, harapannya kita
akan jauh lebih bijak dalam bersikap. Then, udah bersikap sebaik mungkin tapi
kok masih ‘gini-gini aja’ yaaah? Mungkin masih ada yang salah nih dalam diri
kita, dan sekarang adalah kesempatan yang tepat untuk memperbaiki. Kenapa
sekarang? Yaaaa kalo nunggu besok-besok kelamaan lah. Maybe it’s hard but please don’t make it harder that it has to be.
Semangat berbenah!!!
1. Yang
pertama banget kita lakuin ialah kita harus proaktif. Hidup kita berarti yaaa menjadi tanggung jawab kita, dan
kita harus jadi kapten dari kapal kehidupan ini. Di dalam hidup, kita sendiri
lah yang memegang kendali kemana arah dan tujuan hidup kita. Kita harus mampu
mengontrol diri kita karena ketika kita tidak mampu, orang lain yang akan
memegang kendali terhadap hidup kita. Ga mau kaaan kalo misl hidup hidup kita
tapi diaturnya oleh orang lain. Cukup Al-Quran dan Al-Hadist aja yang mengatur
hidup kita, orang lain jangan, eh tapi negara juga masih mengatur hidup kita
ding. Inti dari poin ini, ketika kita play
victim terhadap diri sendiri, menyerah dengan hidup kita itu artinya kita
sedang membiarkan orang lain mengatur hidup kita.
2. Selanjutnya,
kita harus menentukan misi dan tujuan kita. Kalau kita ga ngerti
tujuan kita, yaaaah gimana kita bisa mencapai kan? Naaah, disini kita peru
membuat personal mission statement
atau juga tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Tujuan atau goal ini tuh ibarat destinasi kita, sedangkan personal mission statement kita tadi itu ibarat personal road map yang akan mengantarkan
kita pada destinasi kita.
3. Ingat
prioritas. Prioritas ini pasti udah
seriiing banget kita denger, meski udah sering denger tapi belum tentu kita
sering ngejalaninnya kaaan? Ayooooo ngakuuuuu!!! Haha, akuuu…akuuuu!!! Poin ketiga ialah bagaimana kita memprioritaskan
sesuatu dalam hidup kita, dna tentunya hanya kitalah yang bisa melakukan ini
karen akita sendiri yang lebih tau mengenai diri dan hidup kita. Kita harus
mampu membedakan mana yang penting mana yang kurang penting, mana yang harus
disegerakan dan mana aja yang bisa kita dtunda. Be wise with yourself yaaah.
4. Think win-win. Kita harus banget percaya kalau
misalnya diri kita itu mampu, mampu memenangkan kehidupan ini. Mampu
mengalahkan ego dan nafsu dalam diri. Covey bialng kalau misalnya berpikir
menang (think win-win) ini merupakan sebuah sikap yang mengarahkan kita pada
kehidupan yang mempercayai bahwa setiap orang bisa menang.
5. Mendengarkan. Dibilangnya kita itu harus “seek first to understand, then to be
understod”. Aku pernah denger, menjadi pendengar itu susah. Tapi, salah
satu karakteristik untuk menjadi pemuda yang suskes dan bahagia itu salah
satunya ialah menjadi pendengar yang baik. Kita harus menyiapkan telinga yang
besar dan kuat yang mampu mendengarkan dengan baik ketika misal ada teman
cerita gitu. Oh yaaa, mendengarkan itu tidak hanya sekedar diam aja yaaah, tapi
lebih ke bagimana kita mencoba memahami manusia lainnya.
6. Bersinergi. Sinergi itu bisa dicapai ketika dua
atau lebih orang bekerja secara bersama untuk menciptakan sesuatu yang lebih
baik yang kemungkinan ketika dikerjakan sendiri hasilnya tidak sebaik jika
dikerjakan bersama-sama. Dan dalam melakukan kerjasama tersebut, kita pasti
akan dihadapkan dengan beberapa orang yang memiliki latar belakang berbeda dan
letak kesuksesan dari sebuah sinergi
ialah ketika kita menghargai perbedaan, instead of being scared by them. Dan ketika
ditanya siapakah yang lebih baik, kamu atau aku? Jawabnya ialah no one is better or worse than anyone else,
just different. You are okay, we are okay, and they are okay.
7. Memperbaharui diri. Sepakat kaan kalau misal diri kita
itu terdiri dari hati, badan, pikiran dan juga jiwa yang selalu membutuhkan
waktu dan juga perhatian? Nah, disini kita harus bener-bener memperhatikan
asupan yang tepat untuk tiap-tiap bagian itu, agar tetap “hidup”. Caranya? Me
Time. Refleksi diri. Muhasabah diri. Kita pikirkan apa yang sebenernya diri
kita ini butuhkan. Dan jangan merasa bersalah karena kita mendahulukan
kebutuhan diri kita ketimbang yang lain, lah kalo bukan kitanya sendiri yang
memperhatikan, siapa lagi coba? Apalagi kalau hal ini bisa membuat kita
menajamkan kepekaan kita, it is very okay!
Jadi, itulah cara dan juga
karakteristik yang dijelaskan oleh Covey sebagai salah satu cara untuk menjemput
kebahagiaan dan kesuksesan. Dan yang perlu diingat ialah, poin-poin yang
dijelaskan ituuu kayak gunung es gitu. Jadi, poin satu sampe poin tiga itu
disebutu dengan istilah private victory dimana
tidak ada seorangpun yang tahu apa yang sebenernya terjadi dan apa yang harus
kita kerjain kecuali diri kita sendiri. Kita tidak akan bisa mengubah orang
lain kecuali kita merubah diri kita terlebih dahulu. Lalu, yang poin empat
sampai enam dikenal dengan istilah public
victory, fase yang dapat dilihat oleh banyak orang. Akan tetapi, untuk
dapat mencapai tahap ini kita harus terlebih dulu khatam dengan fase 1,2, dan 3
dan kunci keberhasilan di private victory
ialah dengan berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. I like myself and I am okay with who I am.
It’s inside out, not outside in!! Selamat memperbaiki diri yaaah 😊 semangatttt!!!
Much Love,
Mukhi❤

