Kamis, 06 Desember 2018

The 7 Habits of Highly Effective Teens

The 7 Habits of Highly Effective Teens, The Ultimate Teenage Success Guide
by : Sean Covey

Seneng ga sih kalo kalian diajak ngobrol soal pemuda? Aku pribadi, seneng banget soalnya banyak hal yang bisa diobrolin. Ditinjau dari sudut manapun pemuda selalu memiliki ‘sesuatu’ untuk dibahas. Bahasnya ini, bisa dalam bahasan positif maupun negatif. Tapi meskipun kita bahas sisi negatif pemuda tepatnya remaja semoga dapat kita jadikan pembelajaran yah soalnya kalo cuman ngegosip aja tidak akan terjadi proses acquisition sehingga tidak akan tercipta pengetahuan baru (haha apa sih ini kok malah bahas knowledge management). Yaaah, kurang lebihnya seperti itu yaa, mau bahas sisi positif maupun negatif tetep harus bisa bawa kebaikan untuk diri kita dan juga orang lain.
Ceritanya, beberapa hari yang lalu sempet suka baca buku. Setelah cari-cari, nemu beberapa buku dan hari ini aku pengen ceritakan ulang beberapa part yang udah aku baca dari buku Sean Covey yang berjudul The Most Important Decisions You’ll Ever Make (buku ini aku dapat rekomendasi dari adders Draft-UGM hahha). Setalah dapet buku itu, ternyata di dalamnya ada bahasan mengenai buku dia yang sebelumnya yang berjudul The 7 Habits of Highly Effective Teens, The Ultimate Teenage Success Guide. Bahasan ini ngejelasin tujuh karakteristik dari remaja yang bahagia dan sukses yang kerap ditemui di seluruh dunia. Remaja tepatnya pemuda aku rasa butuh banget karakteristik ini, biar hidup tidak hanya sekedar hidup, hehe. Tapi sebelum masuk ke tujuh karakteristik tersebut, kita bahas dulu mengenai “paradigma” dan “prinsip”. Sering banget kan kita denger kata itu?
Covey menjelaskan paradigma sebagai sebuah persepsi, sudut pandang atau cara bagaimana kita memandang dunia. Dengan memahami betul apa paradigma dan memahami maknanya, kita diharapkan tidak akan dengan mudah men-judge orang lain hanya dari sisi yang nampak dan kebetulan kita lihat padahal kita jarang banget tahu seluruh cerita dari dia. Yang selanjutnya mengenai prinsip. Covey mengibaratkan prinsip itu seperti hukum alam, misalnya prinsip gravitasi. Yang perlu kita tau, prinsip atau hukum tersebut tidak hanya mengatur mengenai fisik dunia melainkan juga mengatur interaksi manusia. Kalau dosen Knowledge Management di kampus bilang, apa yang kita indekskan di semesta, itulah yang akan kita dapat nantinya. Kalau seringnya, mungkin kita sering denger apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Daaaaan, kalau Covey mencontohkannya pada kejujuran. Ketika kita berlaku jujur maka kita akan mendapatkan kepercayaan dari mereka dan ia juga mencotohkan bentuk lain dari prinsip, diantaranya ialah kerja keras, fokus, tanggung jwab, menghormati, and dozens more. Naaah, dengan tau makna dari paradigma dan prinsip, harapannya kita akan jauh lebih bijak dalam bersikap. Then, udah bersikap sebaik mungkin tapi kok masih ‘gini-gini aja’ yaaah? Mungkin masih ada yang salah nih dalam diri kita, dan sekarang adalah kesempatan yang tepat untuk memperbaiki. Kenapa sekarang? Yaaaa kalo nunggu besok-besok kelamaan lah. Maybe it’s hard but please don’t make it harder that it has to be. Semangat berbenah!!!

1. Yang pertama banget kita lakuin ialah kita harus proaktif. Hidup kita berarti yaaa menjadi tanggung jawab kita, dan kita harus jadi kapten dari kapal kehidupan ini. Di dalam hidup, kita sendiri lah yang memegang kendali kemana arah dan tujuan hidup kita. Kita harus mampu mengontrol diri kita karena ketika kita tidak mampu, orang lain yang akan memegang kendali terhadap hidup kita. Ga mau kaaan kalo misl hidup hidup kita tapi diaturnya oleh orang lain. Cukup Al-Quran dan Al-Hadist aja yang mengatur hidup kita, orang lain jangan, eh tapi negara juga masih mengatur hidup kita ding. Inti dari poin ini, ketika kita play victim terhadap diri sendiri, menyerah dengan hidup kita itu artinya kita sedang membiarkan orang lain mengatur hidup kita.
2. Selanjutnya, kita harus menentukan misi dan tujuan kita. Kalau kita ga ngerti tujuan kita, yaaaah gimana kita bisa mencapai kan? Naaah, disini kita peru membuat personal mission statement atau juga tujuan-tujuan yang ingin kita capai. Tujuan atau goal ini tuh ibarat destinasi kita, sedangkan personal mission statement kita tadi itu ibarat personal road map yang akan mengantarkan kita pada destinasi kita.
3. Ingat prioritas. Prioritas ini pasti udah seriiing banget kita denger, meski udah sering denger tapi belum tentu kita sering ngejalaninnya kaaan? Ayooooo ngakuuuuu!!! Haha, akuuu…akuuuu!!!  Poin ketiga ialah bagaimana kita memprioritaskan sesuatu dalam hidup kita, dna tentunya hanya kitalah yang bisa melakukan ini karen akita sendiri yang lebih tau mengenai diri dan hidup kita. Kita harus mampu membedakan mana yang penting mana yang kurang penting, mana yang harus disegerakan dan mana aja yang bisa kita dtunda. Be wise with yourself yaaah.
4. Think win-win. Kita harus banget percaya kalau misalnya diri kita itu mampu, mampu memenangkan kehidupan ini. Mampu mengalahkan ego dan nafsu dalam diri. Covey bialng kalau misalnya berpikir menang (think win-win) ini merupakan sebuah sikap yang mengarahkan kita pada kehidupan yang mempercayai bahwa setiap orang bisa menang.
5. Mendengarkan. Dibilangnya kita itu harus “seek first to understand, then to be understod”. Aku pernah denger, menjadi pendengar itu susah. Tapi, salah satu karakteristik untuk menjadi pemuda yang suskes dan bahagia itu salah satunya ialah menjadi pendengar yang baik. Kita harus menyiapkan telinga yang besar dan kuat yang mampu mendengarkan dengan baik ketika misal ada teman cerita gitu. Oh yaaa, mendengarkan itu tidak hanya sekedar diam aja yaaah, tapi lebih ke bagimana kita mencoba memahami manusia lainnya.
6. Bersinergi. Sinergi itu bisa dicapai ketika dua atau lebih orang bekerja secara bersama untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik yang kemungkinan ketika dikerjakan sendiri hasilnya tidak sebaik jika dikerjakan bersama-sama. Dan dalam melakukan kerjasama tersebut, kita pasti akan dihadapkan dengan beberapa orang yang memiliki latar belakang berbeda dan letak  kesuksesan dari sebuah sinergi ialah ketika kita menghargai perbedaan, instead of being scared by them. Dan ketika ditanya siapakah yang lebih baik, kamu atau aku? Jawabnya ialah no one is better or worse than anyone else, just different. You are okay, we are okay, and they are okay.
7. Memperbaharui diri. Sepakat kaan kalau misal diri kita itu terdiri dari hati, badan, pikiran dan juga jiwa yang selalu membutuhkan waktu dan juga perhatian? Nah, disini kita harus bener-bener memperhatikan asupan yang tepat untuk tiap-tiap bagian itu, agar tetap “hidup”. Caranya? Me Time. Refleksi diri. Muhasabah diri. Kita pikirkan apa yang sebenernya diri kita ini butuhkan. Dan jangan merasa bersalah karena kita mendahulukan kebutuhan diri kita ketimbang yang lain, lah kalo bukan kitanya sendiri yang memperhatikan, siapa lagi coba? Apalagi kalau hal ini bisa membuat kita menajamkan kepekaan kita, it is very okay!

Jadi, itulah cara dan juga karakteristik yang dijelaskan oleh Covey sebagai salah satu cara untuk menjemput kebahagiaan dan kesuksesan. Dan yang perlu diingat ialah, poin-poin yang dijelaskan ituuu kayak gunung es gitu. Jadi, poin satu sampe poin tiga itu disebutu dengan istilah private victory dimana tidak ada seorangpun yang tahu apa yang sebenernya terjadi dan apa yang harus kita kerjain kecuali diri kita sendiri. Kita tidak akan bisa mengubah orang lain kecuali kita merubah diri kita terlebih dahulu. Lalu, yang poin empat sampai enam dikenal dengan istilah public victory, fase yang dapat dilihat oleh banyak orang. Akan tetapi, untuk dapat mencapai tahap ini kita harus terlebih dulu khatam dengan fase 1,2, dan 3 dan kunci keberhasilan di private victory ialah dengan berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. I like myself and I am okay with who I am. It’s inside out, not outside in!! Selamat memperbaiki diri yaaah 😊 semangatttt!!!

Much Love,


Mukhi❤

Minggu, 02 Desember 2018

You are So Worthy!!


Mental illness adalah kondisi yang mempengaruhi pikiran, perasaan, atau suasana hati seseorang. Bentuknya ada banyak, bisa dari depresi klinis, gangguan bipolar, gangguan stress dan trauma, skizofrenia sampai autisme (CMIIW). Terima kasih banyak untuk Mba Rara yang udah ngajak aku buat kenal skizofrenia dan cari tau lebih tentang skizofrenia.
Dan sekarang cari tau sendiri bentuk-bentuk lain dari mental illness. Kenapa bisa penasaran gitu? Karena bisa jadi, aku adalah salah satu penderitanya (ih ngeri yaaa, udah ah gamau temenan lagi sama Mukhi). Ssssst, denger-denger susah tidur juga salah satu bentuk gangguan jiwa lho.
Pict of Kakak Dayyan, captured five years ago. Semoga sampai nanti terus bahagia kayak di foto ini yah kak 😊
Anxiety disorder atau gangguan kecemasan, ternyata salah satu bentuk mental illness yang banyak terjadi di Indonesia dan banyak menghantui remaja di usia 15 tahunan ke atas. Persentasenya mencapai 6% atau sekitar 14 juta orang (data Riskesdas 2013).
Anxiety disorder ini bentuknya apa sih? Ciri-cirinya gimana?? Gangguan kecemasan ini ditandai dengan adanya perasaan khawatir, cemas atau takut yang kuat dan berlebih sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Trus kenapa harus bahas ini? Ga ada bahasan lain gitu? Banyak gaiss, banyak. Tapi lagi pengen speak up aja masalah ini, karena bisa jadi orang-orang di sekitar kita atau mungkin kita sendiri  mengabaikan orang-orang dengan gangguan ini. Malah juga bisa jadi, sikap dan ucapan kita memperburuk keadaan ‘si penderita’. Dan ‘si penderita’ juga mungkin sebagian masih enggan untuk terbuka mengenai permasalahannya. Tapiiiiii… beberapa waktu ini, aku baca banyak banget tulisan temen-temen yang lagi berjuang untuk sembuh dari gangguan yang satu ini. DEPRESI mereka bilang, sampai ada yang harus cuti kuliah, ke psikolog, pergi terapi dan konsumsi obat untuk penyembuhan.
Jadi sebenernya apa sih penyebab dari gangguan ini? Well, kalau aku baca di hallo.com, beberapa kebiasaan yang bisa mengganggu kesehatan mental antara lain sikap pesimis, perfeksionis, pikiran obsesif, rendah diri, kurang tidur, malas gerak dan memendam amarah. Dan kalau boleh aku nambahin, sikap tidak bangga terhadap diri sendiri juga bisa jadi salah satu sebabnya (masuk kategori rendah diri sih yaa sebenernya).
Laluuu, aku bisa bantu apa buat mereka? Kan itu masalahnya mereka, penyakit mereka. Yaaaaap, itu masalah mereka, tapiiii, kita juga bisa lhoooo bantu mereka untuk bangkit. Caranya gimanaaa??
Hargai mereka. Kadang kita susaaaaah banget memahami dan menghargai orang lain, mungkin karena tidak sepemikiran dengan kita misalnya. Padahal dengan didengar dan dihargai, perasaan dan pikiran kita bisa jadi akan lebih membaik. Laluuuu, yang menurut aku penting banget ialah mengenai ucapan kita. Kalo tidak bisa membantu menyembuhkan, yaaa setidaknya jangan melukai.
Well, kayaknya tulisannya ngegantung tak berujung gitu, karena bingung mau ngetik apa lagi, huhu. Akhir kata, cuman mau bilang “it’s okay to ask for support and stop doubting yourself, you are so worthy”

Much love,


Mukhi❤