Selasa, 20 November 2018

Manusia yang 'Manusia'


“Maukah kau menikah denganku, Mei?” Meirose ga jawab, cuman senyum-senyum kaget campur terharu. Mungkin aku atau kita juga akan merespon yang sama, walaupun dalam hati bersorak ria dan pengen jawab “iya maaas, dedek mau”. Atau bisa juga ga respon dan ga jawab karena emang ga ada yang nanyain, hahah. Tapi kan ga ada salahnya kalau kita berharap? Iyaaaps ga ada masalah, tapi gimana kalo misal kita mempersiapkan diri dulu aja?

Jadi ceritanya, minggu kemaren tuh aku ikut sebuah seminar. Awalnya underestimate gituu soalnya ada kemungkinan yang dibahas ga asik, tapi berhubung seminar diadain oleh organisasi yang menjadi tempat aku bertumbuh, baiklaaaah aku hadir adik-adik sekalian. Dan ternyata, meski materinya biasa aku temuin di tempat lain tapi di acara ini tuh pemateri menyampaikannya dengan cara yang super seru dan mudah diterima oleh anak muda, termasuk aku. Tema yang diangkat adalah The Rise of Ummah, pemateri pertama menyampaikan materi tentang pemuda dan pemateri kedua menyampaikan materi dengan judul Muslimah Kunci Kebangkitan Umat.

Pertama, kami disodorkan pertanyaan apasih bedanya pemuda dan remaja. Jelas, kami bingung. Jujur, aku kesulitan gimana yah ngejelasinnya. Konsepnya sih sudah ada di otak, tapi sulit mengungkapkannya. Menurut kalian gimana? Keduanya sama jika dilihat dari segi umur, tapi kesannya beda kan yaaah kalau kita liat dari kelakuan dan pencapaian. Kesannya, remaja itu tipe yang begajulan banyak negatifnya gitu kan yah tapi kalo pemuda itu yang prestatif dan sisi-sisi positif lainnya. Kalian mikir gitu ga? Dan yaps, di dalam Al-Quran dan Al Hadist, tidak disebutkan atau diriwayatkan mengenai remaja melainkan selalu membahas mengenai “pemuda”. Begitu juga dalam sejarah kemerdekaan negara kita, yang diceritakan dalam sejarah adalah para pemuda, bukan remaja.


Jadi sebenernya pemuda itu apaaa? Pemuda ini siapa? Jadi berdasarkan pemaparan pemateri, pemuda itu suatu kekuatan di antara dua kelemahan. Kelemahan yang pertama ialah masa kanak-kanak dan kelemahan satunya ialah masa tua. Keren kaaan yaaah pemuda dibilang sebagai kekuatan, kok bisa gitu yaaaah. Ternyata alasannya ialah karena pemuda itu bisa ngelakuin apa aja. Punya kekuatan buat ngelakuin segala bentuk kebaikan dan juga mampu buat ngelakuin segala bentuk ketidakbaikan. Tergantung si pemuda ini, mau manfaatkan masa mudanya untuk apa. Trus, korelasinya cerita di awal paragraf dan pemuda itu apa?

Yaaaa, taulah yaaa pemuda di sekililing kita masih banyak yang diriweuhkan dengan urusan asmara. Padahaaaal, temen-temennya lagi sibuk berprestasi dan berpartisipasi untuk kemajuan bangsa. Trus maksudmu apaaaa nulis ini, kamu mengingkari fakta kalau naksir atau jatuh cinta itu sifat alamiah manusia? BIG NO guys, aku sepakat. Sepakat banget malah kalau misal perasaan-perasaan itu kadang muncul gitu aja tanpa kita minta, tapi sejujurnya mereka bisa kok dikelola dengan baik. Trus kamu pikir mereka yang lagi jatuh cinta ga bisa berprestasi? Mmmm, engga kooo, ga gitu maksud akutuuu. Kita sering kan denger keluhan “duh capek aku kuliah, pengen nikah aja”, “duhhhh skripsi ga kelar-kelar, bimbingan janjian ama dosen ga kelar-kelar, nikah aja enak kali ya”. Heeeeeeeei, ga sesederhana itu. Nikah ada ilmunya, sudah cukup belum ilmunya untuk mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga?

Kalau dari seminar kemarin yaaaah, sebelum kita memutuskan untuk menikah kita tuh akan menjadi pemuda yang bener-bener kuat untuk melakukan segala bentuk kebaikan karena ga ada distraction atau gangguan. Jadi kita bisa fokus terhadap pengembangan diri kita tanpa harus diriweuhkan dengan urusan pasangan ataupun anak. Dan juga ketika belum ada yang menyampaikan niat baiknya ke ayah kita, kita bisa melakukan banyak hal yang tentunya akan bermanfaat banget buat diri kita dan juga orang lain.

Jadi ada beberapa to do list yang harus dilakukan sebelum kita memutuskan untuk menikah. Yang pertama adalah selesaikan terlebih dahulu masalah diri kita. Ini yaaa jelas banget lah yaaa, masa perkara yang ada di diri kita belum kelar tapi dah mau ngadepin masalah baru tantangan baru, hihi. Trus yang kedua itu, tambah wawasan kita. Penting banget ini mah, kan kita mau membangun perdaban, kalo kitanya ga berwawasan, peradaban apa yang akan kita bangun? Eaaaaaaaaa. Caranya gimana nih kita menambah wawasan? Kalau kemarin sih dibilangnya dengan memberikan nutrisi untuk otak, rohani, dan jasmani. Nutrisi untuk otak, membaca misalnya. Beribadah, menambah imu tentang keIslaman untuk nutrisi rohani dan berolahraga untuk jasmani kita. Then, yang ketiga ialah gali potensi diri. Sebelum memutuskan untuk menikah, kita sebagai pemuda ini memiliki kesempatan selebar-lebarnya untuk berkelana di bumi Allah dan belajar dari setiap kejadian yang kita hadapi. Kita bisa fokus menaklukkan mimpi-mimpi kita dan juga mempersiapkan diri untuk menjadi teladan buat anak-anak kita kelak.

Sebenernya kemarin dijelasinnya ada banyak sih apa aja yang harus dilakuin, cuman aku ga nyatet dengan dalih ‘ah kayaknya mudah diingat’ dan ternyata aku banyak yang lupa, haha. Dan abrakadabra, hanya tiga yang aku ingat tapi insyaAllah sudah cukup mewakili apa yang disampaikan kemarin kok. Semoga bermanfaat yah gaiss, dan kita bisa segera belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menikah ketika sudah siap, tidak menunda menikah karena sibuk dengan karier dan juga tidak tergesa-gesa karena merasa banyak masalah yang harus dihadapi termasuk melihat teman-teman sudah mulai menikah.

Much love,


Mukhi

2 komentar: