“Maukah kau
menikah denganku, Mei?” Meirose ga jawab, cuman senyum-senyum kaget campur
terharu. Mungkin aku atau kita juga akan merespon yang sama, walaupun dalam
hati bersorak ria dan pengen jawab “iya maaas, dedek mau”. Atau bisa juga ga
respon dan ga jawab karena emang ga ada yang nanyain, hahah. Tapi kan ga ada
salahnya kalau kita berharap? Iyaaaps ga ada masalah, tapi gimana kalo misal
kita mempersiapkan diri dulu aja?
Jadi ceritanya,
minggu kemaren tuh aku ikut sebuah seminar. Awalnya underestimate gituu soalnya
ada kemungkinan yang dibahas ga asik, tapi berhubung seminar diadain oleh
organisasi yang menjadi tempat aku bertumbuh, baiklaaaah aku hadir adik-adik
sekalian. Dan ternyata, meski materinya biasa aku temuin di tempat lain tapi di
acara ini tuh pemateri menyampaikannya dengan cara yang super seru dan mudah
diterima oleh anak muda, termasuk aku. Tema yang diangkat adalah The Rise of
Ummah, pemateri pertama menyampaikan materi tentang pemuda dan pemateri kedua
menyampaikan materi dengan judul Muslimah Kunci Kebangkitan Umat.
Pertama, kami disodorkan pertanyaan apasih bedanya pemuda dan remaja. Jelas, kami bingung. Jujur, aku kesulitan gimana yah ngejelasinnya. Konsepnya sih sudah ada di otak, tapi sulit mengungkapkannya. Menurut kalian gimana? Keduanya sama jika dilihat dari segi umur, tapi kesannya beda kan yaaah kalau kita liat dari kelakuan dan pencapaian. Kesannya, remaja itu tipe yang begajulan banyak negatifnya gitu kan yah tapi kalo pemuda itu yang prestatif dan sisi-sisi positif lainnya. Kalian mikir gitu ga? Dan yaps, di dalam Al-Quran dan Al Hadist, tidak disebutkan atau diriwayatkan mengenai remaja melainkan selalu membahas mengenai “pemuda”. Begitu juga dalam sejarah kemerdekaan negara kita, yang diceritakan dalam sejarah adalah para pemuda, bukan remaja.
Pertama, kami disodorkan pertanyaan apasih bedanya pemuda dan remaja. Jelas, kami bingung. Jujur, aku kesulitan gimana yah ngejelasinnya. Konsepnya sih sudah ada di otak, tapi sulit mengungkapkannya. Menurut kalian gimana? Keduanya sama jika dilihat dari segi umur, tapi kesannya beda kan yaaah kalau kita liat dari kelakuan dan pencapaian. Kesannya, remaja itu tipe yang begajulan banyak negatifnya gitu kan yah tapi kalo pemuda itu yang prestatif dan sisi-sisi positif lainnya. Kalian mikir gitu ga? Dan yaps, di dalam Al-Quran dan Al Hadist, tidak disebutkan atau diriwayatkan mengenai remaja melainkan selalu membahas mengenai “pemuda”. Begitu juga dalam sejarah kemerdekaan negara kita, yang diceritakan dalam sejarah adalah para pemuda, bukan remaja.
Jadi sebenernya
pemuda itu apaaa? Pemuda ini siapa? Jadi berdasarkan pemaparan pemateri, pemuda
itu suatu kekuatan di antara dua kelemahan. Kelemahan yang pertama ialah masa
kanak-kanak dan kelemahan satunya ialah masa tua. Keren kaaan yaaah pemuda
dibilang sebagai kekuatan, kok bisa gitu yaaaah. Ternyata alasannya ialah
karena pemuda itu bisa ngelakuin apa aja. Punya kekuatan buat ngelakuin segala
bentuk kebaikan dan juga mampu buat ngelakuin segala bentuk ketidakbaikan.
Tergantung si pemuda ini, mau manfaatkan masa mudanya untuk apa. Trus,
korelasinya cerita di awal paragraf dan pemuda itu apa?
Yaaaa, taulah
yaaa pemuda di sekililing kita masih banyak yang diriweuhkan dengan urusan
asmara. Padahaaaal, temen-temennya lagi sibuk berprestasi dan berpartisipasi
untuk kemajuan bangsa. Trus maksudmu apaaaa nulis ini, kamu mengingkari fakta
kalau naksir atau jatuh cinta itu sifat alamiah manusia? BIG NO guys, aku
sepakat. Sepakat banget malah kalau misal perasaan-perasaan itu kadang muncul
gitu aja tanpa kita minta, tapi sejujurnya mereka bisa kok dikelola dengan baik.
Trus kamu pikir mereka yang lagi jatuh cinta ga bisa berprestasi? Mmmm, engga
kooo, ga gitu maksud akutuuu. Kita sering kan denger keluhan “duh capek aku
kuliah, pengen nikah aja”, “duhhhh skripsi ga kelar-kelar, bimbingan janjian
ama dosen ga kelar-kelar, nikah aja enak kali ya”. Heeeeeeeei, ga sesederhana
itu. Nikah ada ilmunya, sudah cukup belum ilmunya untuk mengarungi bahtera
kehidupan rumah tangga?
Kalau dari
seminar kemarin yaaaah, sebelum kita memutuskan untuk menikah kita tuh akan
menjadi pemuda yang bener-bener kuat untuk melakukan segala bentuk kebaikan
karena ga ada distraction atau gangguan. Jadi kita bisa fokus terhadap
pengembangan diri kita tanpa harus diriweuhkan dengan urusan pasangan ataupun
anak. Dan juga ketika belum ada yang menyampaikan niat baiknya ke ayah kita,
kita bisa melakukan banyak hal yang tentunya akan bermanfaat banget buat diri
kita dan juga orang lain.
Jadi ada
beberapa to do list yang harus dilakukan sebelum kita memutuskan untuk menikah.
Yang pertama adalah selesaikan terlebih dahulu masalah diri kita. Ini yaaa
jelas banget lah yaaa, masa perkara yang ada di diri kita belum kelar tapi dah
mau ngadepin masalah baru tantangan baru, hihi. Trus yang kedua itu, tambah
wawasan kita. Penting banget ini mah, kan kita mau membangun perdaban, kalo
kitanya ga berwawasan, peradaban apa yang akan kita bangun? Eaaaaaaaaa. Caranya
gimana nih kita menambah wawasan? Kalau kemarin sih dibilangnya dengan
memberikan nutrisi untuk otak, rohani, dan jasmani. Nutrisi untuk otak, membaca
misalnya. Beribadah, menambah imu tentang keIslaman untuk nutrisi rohani dan
berolahraga untuk jasmani kita. Then, yang ketiga ialah gali potensi diri.
Sebelum memutuskan untuk menikah, kita sebagai pemuda ini memiliki kesempatan
selebar-lebarnya untuk berkelana di bumi Allah dan belajar dari setiap kejadian
yang kita hadapi. Kita bisa fokus menaklukkan mimpi-mimpi kita dan juga
mempersiapkan diri untuk menjadi teladan buat anak-anak kita kelak.
Sebenernya
kemarin dijelasinnya ada banyak sih apa aja yang harus dilakuin, cuman aku ga
nyatet dengan dalih ‘ah kayaknya mudah diingat’ dan ternyata aku banyak yang
lupa, haha. Dan abrakadabra, hanya tiga yang aku ingat tapi insyaAllah sudah
cukup mewakili apa yang disampaikan kemarin kok. Semoga bermanfaat yah gaiss,
dan kita bisa segera belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Menikah ketika sudah siap, tidak menunda menikah karena sibuk dengan karier dan
juga tidak tergesa-gesa karena merasa banyak masalah yang harus dihadapi
termasuk melihat teman-teman sudah mulai menikah.
Much love,
Mukhi


Kereeen
BalasHapusyeheeee, thankyou kakak
Hapus