Minggu
pagi biasa kuhabiskan untuk beres-beres kamar, mencuci baju atau memasak. Namun
karena Sabtu malam aku sudah mengerjakannya, termasuk mencuri-curi kesempatan
untuk menanak nasi (fyi, di kos tidak boleh memasak pakai ricecooker) akhirnya
minggu pagi terasa sedikit santai. Niatnya mau olahraga, tapi rasa malas selalu
membuat langkahku terhenti. Akhirnya pagi ini kubuat untuk jalan-jalan santai
sambil membeli sayur dan lauk pauk. Tak lama berjalan dari tempat kos, aku
berjalan dengan riangnya melihat ibu penjual nasi sayur sudah siap di tempat.
Yeaaah akhirnya sarapan sayur setelah beberapa hari kekurangan asupan sayur,
begitu pikirku. Dengan membawa sebungkus sayur, satu bungkus pepes, dan
beberapa lauk aku kembali ke kos masih dengan wajah yang berseri-seri entah
kenapa pagi itu aku merasa bahagia. Tapi rasa senang itu sedikit terganggu
ketika aku melihat gerobak sampah di depanku. Aaah, pasti bau nih, duh!. Dengan berjalan sedikit cepat aku
berusaha untuk segera terhindar dari gerobak tersebut. Aku tak berani menutup
hidungku karena takut menyinggung perasaan orang lain, jadi aku hanya berjalan
cepat. Tapiiii, pagi itu suasana berbeda. Langkahku seketika gontai ketika
melihat apa yang terjadi di hadapanku. Aku berusaha untuk menelan semua
kenyataan yang ada di hadapanku, tapi rasanya mengganjal di kerongkongan.
Gerobak itu ditarik oleh laki-laki lanjut usia dengan pakaian lusuh. Ketika aku
lewat di sampingnya, laki-laki tersebut sedang membungkuk mengorek tempat
sampah milik warung makan. Dan di tengah-tengah kegiatannya itu, beliau
menemukan semacam gorengan (saya menebak itu jamur crispy) di tempat sampah dan
langsung melahapnya. Astagfirullahaladziim....
aku yang masih kerap kali mengeluh ketika disuguhkan masakan yang tak
sesuai dengan seleraku, sekarang aku melihat orang yang tak seharusnya memakan
itu namun memakannya kerena sebuah keterpaksaan. Setelah melihat kejadian
tersebut aku tak bersemangat melanjutkan perjalanan pulang dan terus
memikirkannya sampai aku memutuskan untuk menuliskan ceritanya disini.
Sarapanku pun tak lagi seindah yang aku bayangkan. Bagaimana mungkin aku dapat
makan dengan lahap ketika orang yang baru saja kutemui tak demikian. Yah, yang
demikian ini yang kerap kali membuatku ingin pulang ke rumah dengan segera,
perlu recharge rasa syukur di rumah.
Di tempat kuliah seringkali membuatku susah bersyukur karena selalu melihat dan
menginginkan apa yang belum kumiliki. Padahal masih banyak orang yang belum
seberuntung diriku. Mereka yang selalu berdoa agar dapat melanjutkan pendidikan
yang lebih tinggi, mereka yang selalu berdoa agar Allah selalu memberi rezeki
agar dapat membeli makan untuk esok hari. Bersyukur, bersyukur, bersyukur, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.



0 komentar:
Posting Komentar