Bismillahirrahmaanirrakhim….
Ibu, kupersembahkan tulisan ini untukmu. Untuk kasih
sayang dan seluruh peluh kesahmu.
“Mukhi rencana nikah umur berapa?”, “Mukhi nanti mau
kerja dulu atau nikah?”, dan masih pertanyaan lain yang sering diajukan oleh
beberapa kerabat. Mungkin efek semester tua sehingga pertanyaan itu sering
terangkat di permukaan. Dan responku hanya diam, tersenyum, lalu jawab ah tenang sudah diatur sama Allah. Sebenernya Mukhi bingung mau jawab
apa.
Well, sebenarnya rasa bingung ini sudah muncul sejak
duduk di bangku SMA
dan sampai sekarang masih sering dibuat bingung dengannya. Andai Mukhi dilahirkan dari orang tua yang berpendidikan tinggi, keduanya berkarier di dunia pendidikan, pasti Mukhi tumbuh besar menjadi gadis berprestasi. Itu pikiran yang jahat banget, dan pasti akan melukai orangtua dimanapun itu, terlebih lagi Ibu.
dan sampai sekarang masih sering dibuat bingung dengannya. Andai Mukhi dilahirkan dari orang tua yang berpendidikan tinggi, keduanya berkarier di dunia pendidikan, pasti Mukhi tumbuh besar menjadi gadis berprestasi. Itu pikiran yang jahat banget, dan pasti akan melukai orangtua dimanapun itu, terlebih lagi Ibu.
Sampai kini, pikiran itu masih suka menggelitik
membayang-bayangi Mukhi di semester tua ini. Kenapa aku harus mengeluh dengan
takdir yang jelas-jelas pena telah diangkat dan lembaran telah kering. Mengapa tak
aku saja yang memperbaiki diri, mengenyam pendidikan dan berkarier setinggi-tingginya.
Ketika pikiran ini datang kepadaku, besar kemungkinan ini akan datang
membayangi keturunanku nanti. Lalu, apa salahnya ketika kupersiapkan diri dari
sekarang. Akan tetapi….
Setelah berhari-hari aku meneliti dan mengamati,
hasil penelitianku adalah…. Dari jaman Mukhi duduk di bangku TK sampai SMA,
mereka yang mendapatkan peringkat adalah mereka yang Ibunya benar-benar full time mommy tanpa ada pekerjaan
selain mengurus dengan baik rumah tangganya. Ibu-Ibu ini dengan setia menemani
putra-putrinya belajar sepanjang waktu. Sedangkan mereka yang Ibunya berkarier
di luar rumah, mereka akan didaftarkan ke lembaga bibingan belajar dan belajar
bersama tutor.
Lalu apakah aku akan tetap berambisi menjadi wanita
yang berkarier di luar rumah dengan meninggalkan golden time dengan putra-putriku? Apakah pendidikanku cukup sampai
disini untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku kelak? Nyatanya tidak,
ilmu kita tidak akan pernah cukup untuk menjadi seorang guru bagi generasi
penerus bangsa. Terus belajar dan belajar. Dan seorang Ibu tidak cukup hanya dengan
gelar S. AB. Dosen di fakultas sering bercanda, S. AB itu sarjana apa bukan? Heheh.
Yap. Tak cukup hanya dengan gelar itu. Lalu, apa gelar yang akan mencukupi kita
utuk mendidik anak? Mungkin M. Si bisa menjadi salah satu langkah kita untuk
menjadi Ibu yang baik. Ah gampang itu
mah, 2 tahun juga bisa dapet tuh gelar!
Tidak…tidak akan cukup waktu 2 tahun untuk kita
mendapatkan gelar tersebut. M. Si, Master Segala Ilmu. Materi duniawi dan
ukhrawi harus kita pelajari dengan baik agar anak-anak mendapatkan bekal yang
cukup untuk menjalani hari setelah kita tiada.
Lalu, bagaimana respon Mukhi setelah mendapatkan
hasil penelitian sedemikian rupa?
Sabda Rasulullah
ﷺ bermaksud: "Wanita
yang tinggal di rumah bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama-samaku di
dalam surga."


Inspiring
BalasHapusthankyou kakak, maaf mukhi baru liat kalau ada komen kakak :)
Hapus