Sabtu, 25 Maret 2017

Apa Seorang Ibu Harus Bergelar M.Si?




Bismillahirrahmaanirrakhim….
Ibu, kupersembahkan tulisan ini untukmu. Untuk kasih sayang dan seluruh peluh kesahmu.

“Mukhi rencana nikah umur berapa?”, “Mukhi nanti mau kerja dulu atau nikah?”, dan masih pertanyaan lain yang sering diajukan oleh beberapa kerabat. Mungkin efek semester tua sehingga pertanyaan itu sering terangkat di permukaan. Dan responku hanya diam, tersenyum, lalu jawab ah tenang sudah diatur sama Allah. Sebenernya Mukhi bingung mau jawab apa. 
Well, sebenarnya rasa bingung ini sudah muncul sejak duduk di bangku SMA
dan sampai sekarang masih sering dibuat bingung dengannya. Andai Mukhi dilahirkan dari orang tua yang berpendidikan tinggi, keduanya berkarier di dunia pendidikan, pasti Mukhi tumbuh besar menjadi gadis berprestasi. Itu pikiran yang jahat banget, dan pasti akan melukai orangtua dimanapun itu, terlebih lagi Ibu.
Sampai kini, pikiran itu masih suka menggelitik membayang-bayangi Mukhi di semester tua ini. Kenapa aku harus mengeluh dengan takdir yang jelas-jelas pena telah diangkat dan lembaran telah kering. Mengapa tak aku saja yang memperbaiki diri, mengenyam pendidikan dan berkarier setinggi-tingginya. Ketika pikiran ini datang kepadaku, besar kemungkinan ini akan datang membayangi keturunanku nanti. Lalu, apa salahnya ketika kupersiapkan diri dari sekarang. Akan tetapi….
Setelah berhari-hari aku meneliti dan mengamati, hasil penelitianku adalah…. Dari jaman Mukhi duduk di bangku TK sampai SMA, mereka yang mendapatkan peringkat adalah mereka yang Ibunya benar-benar full time mommy tanpa ada pekerjaan selain mengurus dengan baik rumah tangganya. Ibu-Ibu ini dengan setia menemani putra-putrinya belajar sepanjang waktu. Sedangkan mereka yang Ibunya berkarier di luar rumah, mereka akan didaftarkan ke lembaga bibingan belajar dan belajar bersama tutor.
Lalu apakah aku akan tetap berambisi menjadi wanita yang berkarier di luar rumah dengan meninggalkan golden time dengan putra-putriku? Apakah pendidikanku cukup sampai disini untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku kelak? Nyatanya tidak, ilmu kita tidak akan pernah cukup untuk menjadi seorang guru bagi generasi penerus bangsa. Terus belajar dan belajar. Dan seorang Ibu tidak cukup hanya dengan gelar S. AB. Dosen di fakultas sering bercanda, S. AB itu sarjana apa bukan? Heheh. Yap. Tak cukup hanya dengan gelar itu. Lalu, apa gelar yang akan mencukupi kita utuk mendidik anak? Mungkin M. Si bisa menjadi salah satu langkah kita untuk menjadi Ibu yang baik. Ah gampang itu mah, 2 tahun juga bisa dapet tuh gelar!
Tidak…tidak akan cukup waktu 2 tahun untuk kita mendapatkan gelar tersebut. M. Si, Master Segala Ilmu. Materi duniawi dan ukhrawi harus kita pelajari dengan baik agar anak-anak mendapatkan bekal yang cukup untuk menjalani hari setelah kita tiada.
Lalu, bagaimana respon Mukhi setelah mendapatkan hasil penelitian sedemikian rupa?
Sabda Rasulullah bermaksud: "Wanita yang tinggal di rumah bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama-samaku di dalam surga."

2 komentar: