Mungkin
sebagian dari kita masih ingat kala kecil hampir setiap pagi sebelum pelajaran
dimulai kita selalu menyanyikan lagu yang dapat memberi semangat kepada
pelajar, generasi penerus bangsa. Lagu “Kolam Susu” mungkin salah satunya. Lagu
ini kerap dinyanyikan dengan suara lantang, memuji anugrah Tuhan akan
Indonesia, membanggakan kekayaan Indonesia. Tapi masih samakah perasaan kita
bila menyanyikan lagu tersebut detik ini juga? Benarkah Indonesia tanah surga? Orang bilang tanah kita tanah surga.
Mengapa
tanah kita tanah surga?
Indonesia
memiliki kekayaan alam yang melimpah namun rakyat belum memiliki kemampuan yang
memadai untuk mengelolanya, jadilah Indonesia surga bagi pihak asing dalam mengeruk kekayaan Indonesia.
Indonesia
memiliki sistem hukum dan perundangan yang baik namun penyelenggaraannya kurang
baik, jadilah Indonesia surga bagi mereka
yang tega menindas rakyat dan memakan kekayaan negara.
Indonesia
memiliki banyak sumber daya manusia yang berpendidikan tidak tinggi jadilah
Indonesia surga bagi mereka yang
memiliki kuasa untuk memperkejakan mereka layaknya budak.
Lalu,
masih sepadankan barisan lirik lagu “Kolam Susu” itu?
Mungkin
masih sepadan bila kita hanya melihat Indonesia bagian timur. Indonesia timur
memang masih kaya walupun masih jauh dari kata maju. Bagaimana mungkin
Indonesia timur dapat dengan cepat menjadi daerah maju, media saja masih enggan
untuk memberitakan apa yang terjadi disana. Misalnya saat banyak media
berhari-hari meliput kebanjiran di Jakarta, seramai itukah pemberitaan media
saat Indonesia timur kekurangan air berhari-hari? Tidak. Mereka lebih sering luput
dari pemberitaan, mereka seakan dikemas cantik nan rapat agar tak banyak orang
mengetahui kekayaan dibalik kesusahan itu. Itu salah satu contoh diskriminasi
yang mungkin dilakukan secara tidak sadar.
Lalu
bagiamana dengan hukuman yang dijatuhkan seorang hakim kepada pelaku pidana?
Apa juga termasuk tindak diskriminasi secara tidak sadar? Masih ingatkah hukuman seorang nenek yang
mengambil kopi di kebun milik tetangganya? Masa tahan nenek tersebut sama
dengan pelaku pidana korupsi. Sepadankah? Tidak mampukah nurani berbicara?
Apa
semua masalah terjadi karena rendahnya pendidikan sumber daya manusia? Mungkin
lebih tepat lagi rendahnya pendidikan emosional dan spiritual rakyat. Apakah
negara bertanggung jawab terhadap pendidikan mereka? Tentu negara bertanggung
jawab dan telah mempertanggungjawakan sebagian tugasnya untuk mengentaskan buta
aksara di negara ini. Namun sekali lagi diskriminasi seakan-akan selalu terjadi
dalam hal apapun di negara ini, termasuk soal pendidikan.
Dengan
disusun dan ditetapkannya kurikulum 2013, menteri berharap pendidikan di
Indonesia jadi lebih baik. Pentingkah penetapan tersebut bila tidak disertai
langkah nyata? Pendidikan sudah menjadi hal lumrah bagi kita yang tinggal di
Pulau Jawa, namun bagi mereka yang diluar Jawa, pendidikan masih terlalu sulit
untuk dijalankan, cita-cita masih terlalu sulit untuk dicapai.
Semua
rakyat menginginkan dan memimpikan perubahan, sebagian besar rakyat menyerukan dilakukannya perubahan, dan hanya
sebagian kecil rakyat yang melakukan langkah nyata untuk melakukan perubahan.
Perubahan dilakukan untuk mengangkat derajat Indonesia, mempersembahkan
Indonesia yang damai dan kokoh kepada bumi pertiwi.


Seminimal minimalnya perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri..
BalasHapusyap, sepakat. terima kasih sudah mampir ke blog mukhi :)
Hapus