Selasa, 16 September 2014

Ketika Garam Tak Lagi Asin



Mungkin sebagian dari kita masih ingat kala kecil hampir setiap pagi sebelum pelajaran dimulai kita selalu menyanyikan lagu yang dapat memberi semangat kepada pelajar, generasi penerus bangsa. Lagu “Kolam Susu” mungkin salah satunya. Lagu ini kerap dinyanyikan dengan suara lantang, memuji anugrah Tuhan akan Indonesia, membanggakan kekayaan Indonesia. Tapi masih samakah perasaan kita bila menyanyikan lagu tersebut detik ini juga? Benarkah Indonesia tanah surga? Orang bilang tanah kita tanah surga.
Mengapa tanah kita tanah surga?

Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah namun rakyat belum memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelolanya, jadilah Indonesia surga bagi pihak asing dalam mengeruk kekayaan Indonesia.
Indonesia memiliki sistem hukum dan perundangan yang baik namun penyelenggaraannya kurang baik, jadilah Indonesia surga bagi mereka yang tega menindas rakyat dan memakan kekayaan negara.
Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang berpendidikan tidak tinggi jadilah Indonesia surga bagi mereka yang memiliki kuasa untuk memperkejakan mereka layaknya budak.
Lalu, masih sepadankan barisan lirik lagu “Kolam Susu” itu?
Mungkin masih sepadan bila kita hanya melihat Indonesia bagian timur. Indonesia timur memang masih kaya walupun masih jauh dari kata maju. Bagaimana mungkin Indonesia timur dapat dengan cepat menjadi daerah maju, media saja masih enggan untuk memberitakan apa yang terjadi disana. Misalnya saat banyak media berhari-hari meliput kebanjiran di Jakarta, seramai itukah pemberitaan media saat Indonesia timur kekurangan air berhari-hari? Tidak. Mereka lebih sering luput dari pemberitaan, mereka seakan dikemas cantik nan rapat agar tak banyak orang mengetahui kekayaan dibalik kesusahan itu. Itu salah satu contoh diskriminasi yang mungkin dilakukan secara tidak sadar.
Lalu bagiamana dengan hukuman yang dijatuhkan seorang hakim kepada pelaku pidana? Apa juga termasuk tindak diskriminasi secara tidak sadar?  Masih ingatkah hukuman seorang nenek yang mengambil kopi di kebun milik tetangganya? Masa tahan nenek tersebut sama dengan pelaku pidana korupsi. Sepadankah? Tidak mampukah nurani berbicara?
Apa semua masalah terjadi karena rendahnya pendidikan sumber daya manusia? Mungkin lebih tepat lagi rendahnya pendidikan emosional dan spiritual rakyat. Apakah negara bertanggung jawab terhadap pendidikan mereka? Tentu negara bertanggung jawab dan telah mempertanggungjawakan sebagian tugasnya untuk mengentaskan buta aksara di negara ini. Namun sekali lagi diskriminasi seakan-akan selalu terjadi dalam hal apapun di negara ini, termasuk soal pendidikan.
Dengan disusun dan ditetapkannya kurikulum 2013, menteri berharap pendidikan di Indonesia jadi lebih baik. Pentingkah penetapan tersebut bila tidak disertai langkah nyata? Pendidikan sudah menjadi hal lumrah bagi kita yang tinggal di Pulau Jawa, namun bagi mereka yang diluar Jawa, pendidikan masih terlalu sulit untuk dijalankan, cita-cita masih terlalu sulit untuk dicapai.
Semua rakyat menginginkan dan memimpikan perubahan, sebagian besar rakyat  menyerukan dilakukannya perubahan, dan hanya sebagian kecil rakyat yang melakukan langkah nyata untuk melakukan perubahan. Perubahan dilakukan untuk mengangkat derajat Indonesia, mempersembahkan Indonesia yang damai dan kokoh kepada bumi pertiwi.

2 komentar:

  1. Seminimal minimalnya perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap, sepakat. terima kasih sudah mampir ke blog mukhi :)

      Hapus