Bismillaahirrahmaanirrakhiim...
Beberapa
bulan yang lalu saya dipertemukan dengan perempuan barpakaian warna hijau
lengkap dengan kerudung lebar tanpa ada lekuk tubuh yang terlihat sedikitpun,
yang pada awalnya saya malas untuk mengamatinya lebih lama. Saat dimulainya
acara tersebut, semua tamu undangan saling bersalaman sebelum duduk di kursi
yang telah disediakan. Apa yang perempuan tersebut lakukan? Dia menolak
bersalaman dengan guru sepuh sekolah saya. Apa perempuan itu tidak mau
bersalaman dengan lawan jenis? Apa takut menyebabkan syahwat? Ah, pak guru kan
sudah tua masa iya mau macem-macem Mbak?
Perasaan underestimate saya waktu itu
dilatarbelakangi perempuan tersebut menolak
bersalaman dengan guru saya yang sudah sepuh. Acara
berlangsung cukup lama sampai saatnya acara selesai namun saya dan teman saya
belum bisa pulang karena harus menunggu hujan reda. Di saat saya duduk teras
gedung, muncul perempuan tersebut dengan langkah manja sambil menggamit lengan
laki-laki yang pada saat acara tadi laki-laki tersebut menjadi salah seorang
motivator. Hah mbak ini gimana sih,
salaman sama pak guruku ga mau, tapi pegang-pegang tangan pacarnya. Cukup
lama saya mengamati mereka berdua yang juga sedang menunggu hujan reda, lalu
saya menyimpulkan bahwa mereka berdua adalah pasangan suami istri. Saya cukup
lama memperhatikan perempuan tersebut sampai akhirnya saya menyebutnya dengan “
Mbak Cantik”. Hari itu pertama kalinya saya melihat perempuan menutup aurat
dengan benar namun masih terdapat kesan modis
dan fashionable. Ya, dia menjadi
inspirator pertama saya dalam menutup aurat dengan benar.
Beberapa minggu setelah acara
tersebut berlalu, saya masih bersemangat menceritakan perempuan tersebut kepada
teman-teman. Saya pun masih memikirkan perempuan tersebut sampai
berbulan-bulan, bahkan saya sampai mencari nama dan latar belakangnya. Setelah
sekitar satu jam membuka sosial media mecari nama ini itu, akhirnya saya
menemukan nama laki-laki yang saat itu bersamanya. Saya langsung bersemangat
mengunjungi timeline beliau, dan apa
yang saya pikirkan saat acara itu benar. Mereka pasangan suami istri, Kang
Anggayudha A. Rasa dan Teh Syarifah Annisa. Ahaaa...panggilannya Teh Nisa. Ya, Mbak Cantikku bernama Teh Nisa. Dari
hasil pengamatan saya lewat dunia maya, Teh Nisa adalah pribadi yang santun, peduli
anak kecil, dan aktif di berbagai organisasi, baik organisasi keagamaan ataupun
organisasi nirlaba. Semoga saya dapat menyusul menjadi “Mbak Cantik” dengan
segera. (aamiin)
Malang,
29 September 2014, 03.59 WIB


0 komentar:
Posting Komentar