Malam ini sebenarnya masih dalam
pekan Ujian Akhir Sekolah, bahkan besok mata pelajaran yang diujikan adalah
matematika- yang mungkin menjadi momok sebagian besar pelajar. Namun
pemikiran-pemikiran yang berkecamuk sedari tadi pagi terlalu menggangguku ketika
aku mulai mencoba berkonsentrasi pada sederet rumus yang belum aku pahami
dengan benar. Aku harus meluapkan ini, menumpahkan semua keluh kesah ini. Aku
sudah mencoba untuk bercerita kepada ibuku, lalu kau tahu apa jawabnya? “iya Bu
Guru nggak tahu, tapi kan Tuhan Maha Tahu”. Lalu
apa solusinya? Aku mengaduh
pada Tuhanku? Sudah kulakukan sebelum aku menceritakannya pada Ibuku. Puncaknya
tadi siang saat ujian kedua dimulai. Hati dan pikiranku saling mendebat, saling
riuh saat teman-temanku masih diam terpaku dengan lembar jawaban di hadapannya.
Perdebatan ini dimulai dari pikiranku terlebih dahulu yang (mungkin) melukai
hatiku.
Pikiran : “Enak banget sih ujian pake
tanya-tanya jawaban ke temen padahal kan dia pinter, nah sini, masuk peringkat
lima besar aja belum pernah, pengetahuan pas-pasan, ngerjain sendiri”
Hati
: “ngapain sih iri, biarin aja kali, yang rugi kan dia sendiri”.
Pikiran : “hah? Rugi? Rugi darimana?
Jawabannya aja dari banyak otak, ya nilainya juga pasti banyak”.
Hati
: “trus kamu mau ikutan diskusi waktu ujian?”
Pikiran : “ya enggaklah, enak aja, aku kan mau istiqamah gak nyontek!!”.
Hati
: “yaudah ngapain masih mikirin orang lain, dia aja ga mikirin kamu”.
Pikiran : “tapi kan ini ga adil, kan kasian yang berjuang dengan kemampuan sendiri”.
Hati
: “loh, kamu siapa kok bahas-bahas adil?”.
Pikiran : “aku? Aku korban dalam kasus ini!”
Hati : “duh kamu kok mendramatisir
keadaan sih, udah, biarin aja mereka bersikap seperti itu, yang rugi dia kok”
Pikiran : “ hellaaaw.. gue korbannya keles!!!”
Hati : “ah kamu alay deh, Tuhan mu
kan hebat sih, Tuhan mu pasti tau mana yang terbaik buat kamu”.
Pikiran : “adil gimana? Lha wong buktinya nilaiku masih di bawah mereka gitu kok”.
Hati : “ ya berarti usahamu masih
kurang, oiyaa kamu inget gak, Tuhan adil kan bukan berarti menyama-ratakan
semua mahkluknya”.
Pikiran : “hehe, iya juga sih.. tapi kan
aku berhak memperjuangkan keadilan di atas muka bumi ini”.
Hati : “kumat deh -____-. Udahlah,
kamu inget-inget aja, ga ada perjuangan yang sia-sia kok. Apa yang kamu tanam
hari ini, kamu akan menuainya di esok hari”.
Pikiran : “ what? Masa depan? Kan aku
butuhnya sekarang, buat bisa dapetin PTN impian”.
Hati : “duh ga sabaran banget sih
mbak, seeloooow dong, tenang, Tuhan pasti bales kok”.
Pikiran : “ah tau ah, males debat sama
kamu! Aku ngumpulin jawaban dulu ya, biar cepet pulang, istirahat, tidur!!!”
Hati
: “ oke, i’ve waited since a few minutes ago :p”.
Pikiran : “hah alay pisan euh”.
Pict by : morkembheng.blogspot.com
Inti jawaban dari perdebatan pun sama
dengan jawaban Ibu, kembalikan semuanya pada Tuhan. You have done the best then
lets Allah do the rest, nak.


0 komentar:
Posting Komentar