AWAL PERJUANGAN - MENITI MASA DEPAN
Oleh Mukhibatul Hikmah
Alhamdulillah. Setelah
menghabiskan waktu cukup lama untuk memikirkan jurusan dan universitas, tombol
finalisasi akhirnya ter-klik juga. Semoga Sosiologi Universitas Indonesia benar-benar
yang keputusan terbaik untuk masa depanku. Aamiin.
Perlu perjuangan yang tidak mudah untuk memilih Sosiologi dan UI. Sederet
pertanyaan dan pernyataan selalu muncul saat aku bercengkrama dengan
orang-orang terdekat. Kok Sosiologi sih,
mau jadi apa nanti?
Sosiologi kan susah cari kerjanya. Kok jauh banget sampai ke
UI sih, di Jawa Timur kan ada juga universitas yang bagus. Kamu gengsi ya
kuliah di Jawa Timur? Kamu gak boleh kuliah di UI, jauh, kamu sakit-sakitan,
nanti siapa yang ngurusin kamu?UI tempatnya di metropolitan, nanti kamu
ikut-ikutan pergaulan yang gak bener.
Mau
diurut jawaban dariku? Oke.
Mau jadi apa kuliah Sosiologi? Mau
jadi ibu rumah tangga yang baik dan jadi menantu idaman, hehe. Bapak, ibu,
kakak-kakak, adik-adik tercinta, aku mau masuk Sosiologi bukan berarti tidak
memikirkan prospek kerja, bukan berarti pemikirannya cuman sampai setiba di
universitas dan kuliah aja. Mukhi mau masuk jurusan Sosiologi biar dapat ilmu
sosial lebih daripada yang lain. Jadi, aku kuliah itu buat cari ilmu, nah nanti
ilmunya baru diterapkan di dunia kerja.
Kenapa sih nak kok jauh banget sampai ke
UI? Ibu
tau pepatah “tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”? Itu Nabi Muhammad lho
bu yang bilang. Nah, UI itu masih di Pulau Jawa, masih di Indonesia juga, belum
ke Cina. Aku waktu itu jawabnya sambil peluk ibu eraaaat banget, hehe.
Kamu gengsi kuliah di Jawa Timur? Memang
benar UI tidak menjamin kesuksesan bagi mahasiswanya, tapi bukankah tidak salah
bila tiap individu berusaha menjemput kesuksesan dengan caranya sendiri? Nah,
siapa tahu aku bisa membanggakan kalian kalau aku kuliah di UI. Who knows?
Mukhi sakit-sakitan! Hehe,
sekarang sudah jauh lebih baik kan dibandingkan semester 5? Aku sehat, aku kuat
kok! Tips-nya jangan mengadu kalau memang lagi sakit, kalaupun sudah ketahuan
sakit, yakinkan mereka kalau besok pasti sudah sembuh J.
Terbawa arus pergaulan tidak sehat? Hmm,
mengapa kota besar, metropolitan selalu identik dengan pergauan bebas,
kenakalan remaja? Lalu kalau di kota kecil, di pelosok tidak ada kejahatan,
kenakalan? Ah ga juga kan? Jadi, yakinkan saja kalau mau berbuat menyimpang itu
ga harus nunggu tinggal di kota metrpolitan kok, di lingkungan sendiri juga
bisa. Tergantung niat dan tujuan tiap-tiap individu.
Itu
tadi merupakan sedikit dari perjuanganku untuk meluluhkan anggapan kurang benar
dari keluarga ataupun sahabat. Namun pada akhirnya ibu berkata “ kalau mau ya
daftar aja sana”. Ah kalimat ini yang sudah kutunggu sekian bulan lamanya.
Kalian tahu, untuk membuat ibu mengatakan ini, setiap ada kesempatan di rumah
(maklum anak kost) aku selalu berusaha
kelihatan rajin di depan keluarga, bantu-bantu kerja, capek sih, tapi terbayar
dengan didapatnya restu ibu. Tidak
pernah ada perjuangan yang sia-sia, semua berbuah manis. Lebih manis lagi kalau
tanggal 27 Mei nanti aku diterima di Sosiologi-UI. Aamiin _/\_


hak! semangat pejuang. pejuang-restu-orang-tua!
BalasHapushihi, pengalaman yang sama, semoga berakhir indah :'))
BalasHapusaminnnn :) berdoa yak ik,
BalasHapusUniversitas Indonesia bisa kita raih !!! :)